LampuHijau.co.id - Kisah kekalahan Aryo Penangsang sangat melenggenda dalam cerita teater rakyar atau ketoprak. Bagi orang-orang Jawa di bagian lain di luar kawasan Jipang, kekalahan itu sebagai buah kecerdikan Joko Tingkir. Tapi bagi orang Jipang, tentulah ini semua tragedi yang memilukan.
Dalam lakon yang populer, diceritakan, kekalahan Adipati Aryo Penangsang dimulai dari cerdiknya Ki Jurumertani. Ia adalah penasehat perang pasukan Pajang yang menyuruh prajurit Pajang menunggangi kuda betina di luar Sungai Bengawan Sore.
Baca juga : Kutukan Parit Keramat Bengawan Sore
Saat itu, Aryo Penangsang sedang menaiki kudanya yang terkenal bernama Gagak Rimang, seekor kuda jantan yang sangat gagah dan berbulu sehitam burung gagak. Kuda jantan itu sedang berada di seberang dalam sungai. Melihat ada kuda betina di seberang sungai, Gagak Rimang berlari menyeberangi Bengawan Sore. Dasar kuda, si Gagak Rimang terpikat oleh kuda betina prajurit Pajang yang sengaja dipasang untuk menggoda.
Tanpa sadar, Aryo Penangsang yang masih menungganginya, ikut menyeberangi Bengawan Sore yang telah ditaburi mantra kutukan: siapa yang berani menyeberang akan menerima kekalahan dalam perang.
Baca juga : Gelar Pengajian, Bentuk Alis Krisdayanti Jadi Bahan Omongan
Maka begitulah. Peperangan terjadi antara Aryo Penangsang dengan Sutawijaya, seorang Senopati Pajang, yang membawa tombak pusaka kerajaan Demak, Tombak Kiai Pleret. Danang Sutowijoyo adalah anak kandung Ki Pemanahan yang diangkat menjadi anak angkat oleh Joko Tingkir, yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Dan dengan tombak pusaka Kanjeng Kiai Pleret, Sutawijaya dapat merobek perut Aryo Penangsang. Tetapi dengan kesaktiannya, Aryo Penangsang tidak apa-apa walaupun ususnya sudah keluar. Lalu usus yang terburai tadi dikalungkanya pada keris di pinggangnya. (Bersambung)