LampuHijau.co.id - Pengalamannya berorganisasi cukup panjang. Sejak masih kuliah di Universtias Brawijaya, ia sudah aktif di PMII. Selesai kuliah, Muhammad Lukman Edy pulang ke kampung halamannya di Riau.
Pada usia 28 tahun, ia menjadi anggota DPRD Riau. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Ketua DPW PKB Riau pada usia 29 tahun. Ini adalah prestasi tersendiri, karena ia menjadi Ketua DPW termuda di Indonesia.
Baca juga : Pewaris Tahta Demak yang Disingkirkan
Puncak karir Lukman terjadi ketika Muhaimin Iskandar memenangi Muktamar PKB 2005. Sebab, ia kemudian ditarik ke Jakarta untuk menjadi Sekretaris Jenderal PKB. Puncak pencapaian Lukman Edy, tentu saja saat ia dilantik menjadi Menteri Percepatan Daerah Tertinggal pada 9 Mei 2007. Selain aktif di PKB, pria kelahiran 26 November 1970 ini juga menjadi Ketua LPNU Riau, selain pernah menjadi Mustasyar di PWNU Riau.
Sebagai orang yang terpandang, tentu saja, masih banyak kegiatannya selain berpolitik dan menjadi elit di NU. Di tanah kelahirannya pula, ia aktif sebagai pengusaha. Misalnya saja, pernah aktif sebagai Wakil Ketua DPD Gapensi Riau, lalu menjadi pengurus Kadin Riau. Organisasi sosial yang ikut menjadikannya tokoh adalah Lembaga Adat Melayu Riau tempat ia pernah menjadi Wakil Sekretaris.
Baca juga : Lahir pada Senin Wage, Rezeki Politisi Ini Ngalir Terus
Meski lulusan Teknik Sipil (di Universtias Brawijaya tahun 1995), Lukman mengambil Administrasi Pembanganan untuk S2 di Universitas Padjajaran (2004). Kemudian, merampungkan S3 di Sosiologi dan Antropologi Universitas Malaya, Malaysia (2010).
Oleh karena lahir di tanggal 26 November 1970, Muhammad Lukman Edy mempunyai weton Kamis Pon. Pada tarikh Jawi, tanggal lahirnya adalah 27 Poso 1902 J. Atau, 27 Ramadhan 1390 Hijriah. Weton Kamis membuatnya memiliki karakter yang berwibawa dengan kecenderungan sangar. Sementara pasaran Pon membekalinya dengan bicaranya yang enak sehingga banyak didengarkan orang. Pasaran Pon juga membuatnya menjadi orang rumahan. Serta, tidak mau memakan yang bukan kepunyaannya sendiri.
Baca juga : Menelisik Keris yang Dipakai Mahapatih Gajah Mada
Lebih dari semua itu, rezekinya cukup. Berada di bawah padewa Dewa Yama, hidupnya tergolong sederhana dan pemaaf. Berdasarkan wuku Wuye kelahirannya, ia dijangkung oleh Dewa Bumi Bethara Kuwera. Dilambangkan pohonnya pohon Tal, yang memiliki makna panjang umurnya. Lambang lain, menyandang keris yang berarti tajam intuisinya. (C-1)