LampuHijau.co.id - Press conference film "Air Mata Mualaf" yang digelar pada 19 November 2025, menandai tahap penting sebelum film ini resmi tayang di bioskop. Dalam acara tersebut, para pemain dan tim produksi mengulas bagaimana film ini mengangkat tema keluarga, perbedaan keyakinan, dan keberanian seseorang menentukan jalan hidupnya.

Film ini juga menyoroti proses datangnya hidayah yang sering kali hadir secara mengejutkan dan di luar kendali manusia. Sejak dua trailer dirilis ke publik, Air Mata Mualaf langsung menarik perhatian.
Trailer pertama menampilkan perjalanan batin Anggie dalam mencari jati diri. Sementara trailer kedua menekankan dinamika keluarga yang goyah akibat perbedaan prinsip serta pertanyaan besar yang kerap muncul dalam kehidupan seseorang: “Apakah ini hidayah… atau sekadar pelarian dari hati yang sedang terluka?”
Kedua trailer tersebut memperlihatkan konflik emosional yang digarap dengan pendekatan visual intim, menunjukkan rasa takut, amarah, hingga ketenangan setelah mengambil keputusan.
Sutradara Indra Gunawan menegaskan, film ini tidak bertujuan untuk menilai benar atau salah. Fokus utamanya adalah menggambarkan manusia yang sedang berada di titik kritis dalam hidupnya.
Baca juga : Bos Timah Koba Dituntut 14 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp 3,6 T
"Saya membuat film ini bukan untuk menunjukkan siapa yang benar atau salah. Fokus kami adalah menghadirkan manusia apa adanya, dengan ketakutan, cinta, dan keberanian mereka. Setiap orang pernah berada di titik ketika ia harus memilih jalannya sendiri, dan proses itulah yang kami ceritakan," ujarnya.
Indra ingin penonton melihat bahwa perjalanan spiritual selalu personal dan tidak bisa dipaksakan.
Sementara produser Dewi Amanda mengungkapkan bahwa keberanian mengangkat isu sensitif berangkat dari fenomena nyata di masyarakat.
“Perbedaan dalam keluarga sering dipandang sebagai ancaman. Tetapi melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bisa menjadi ruang belajar. Hidayah atau jalan pilihan tidak datang karena paksaan manusia; ia datang dari Tuhan. Film ini mengajak penonton melihat itu dengan hati yang lebih lembut,” jelas Dewi.
Pandangan ini menjadi fondasi penting bagi pesan yang ingin disampaikan film.
Acha Septriasa, pemeran Anggie mengatakan bahwa tokoh yang ia mainkan memberikan perspektif baru tentang keberanian seorang perempuan.
“Anggie adalah sosok yang memilih tanpa membenci dan melangkah tanpa marah. Dia tahu apa yang ia rasakan sebagai kebenaran, tetapi ia juga mencintai keluarganya dengan sangat dalam. Peran ini mengingatkan saya bahwa memilih jalan sendiri bukan tindakan meninggalkan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri,” tuturnya.
Achmad Megantara, pemeran seorang ustaz, juga menekankan pentingnya memahami bahwa perjalanan spiritual setiap orang berbeda.
“Banyak orang datang kepada keyakinan bukan karena amarah, tetapi karena panggilan. Hidayah tidak bisa ditebak, dan tidak semua orang bisa memahaminya di waktu yang sama. Melalui karakter saya, film ini ingin menunjukkan bahwa dialog antara iman dan kemanusiaan harus selalu diberi ruang,” ujar Megantara.
Sementara Rizky Hanggono mengaku, beberapa adegan dalam film memunculkan kembali memorinya tentang dinamika keluarga.
“Ada adegan yang membuat saya teringat pada adik perempuan saya. Konflik keluarga sering kali lahir bukan dari kebencian, tetapi dari rasa takut kehilangan. Film ini mengingatkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti mengarahkan hidupnya,” ujar Rizky.
Dalam press screening yang digelar setelah konferensi pers, terlihat bahwa Air Mata Mualaf memilih pendekatan yang berbeda. Tidak ada tokoh antagonis. Setiap karakter hadir dengan niat baik dan rasa cinta masing-masing menggambarkan realita bahwa konflik keluarga sering muncul dari ketidakpahaman, bukan kebencian.
Baca juga : Imigrasi Jakarta Pusat akan Tindak Para Pencari Suaka dan Pengungsi yang Berulah
Konflik utama lahir dari pergulatan menjaga keutuhan keluarga sekaligus keinginan untuk tetap jujur pada suara hati. Film ini merupakan proyek kolaborasi internasional yang melibatkan pelaku film dari Indonesia, Malaysia, dan Australia.
Aktor internasional seperti Syamim Freida, Hazman Al Idrus, dan Matthew Williams turut memperkuat jajaran pemeran, memperlihatkan bahwa tema pencarian makna hidup adalah cerita universal.
Air Mata Mualaf akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 November 2025. Setelah itu, film ini juga dijadwalkan hadir di berbagai negara Asia Tenggara dan Timur Tengah pada awal Desember. Film ini tidak memberikan jawaban pasti, melainkan membuka ruang bagi penonton untuk merenung.
Seperti yang disampaikan sutradara, "Hidup tidak pernah menutup cerita dengan satu jawaban. Yang ada hanya perjalanan, pertumbuhan, dan keberanian seseorang untuk berkata dalam hati: inilah jalan pilihanku." (Mal)