LampuHijau.co.id - Teka-teki kematian sopir taksi online yang mayatnya ditemukan di tepi jurang, Pangalengan, Kabupaten Bandung, terkuak. Mayat yang ternyata sopir taksi online itu dibunuh oleh penumpangnya ; 4 remaja putri. Motifnya karena mereka tak mampu bayar ongkos perjalanan.
Empat gadis, IK (15), RM (18), RK (18), dan SL (19) ditangkap polisi Polresta Bandung. Mereka membunuh seorang pensiunan PNS yang berprofesi sebagai driver taksi online. Awalnya 30 Maret 2020, mayat korban yang bernama Samiyo Basuki Riyanto (60) ditemukan di tepi jurang di Pengalengan, Kabupaten Bandung. Polisi saat itu hanya menemukan sebuah kartu identitas, di mana dari kartu identitas tersebut korban diketahui berasal dari Bekasi.
IK dan SL rupanya memesan mobil korban secara offline dari Jakarta kemudian menjemput RK dan RM yang berada di Kabupaten Bandung. Janjinya korban akan dibayar Rp.1,7 juta setelah sampai di Pangalengan. "Di tengah jalan mereka sepakat akan membayar yang Rp.1,7 juta untuk biaya perjalanannya. Tapi ternyata mereka tidak punya uang," tutur Kapolresta Bandung, Kombes Hendra Kurniawan.
Dari situlah muncul niat membunuh korban. Kebetulan ada kunci inggris di mobil tersebut. IK memukul kepala korban hingga mobilnya bergoyang tidak stabil. Namun korban masih bertahan, hingga pukulan ke delapan Korban tak berdaya. "Dipukul kepalanya kemudian sedikit goyang, dipukul lagi sebanyak 8 kali hingga akhirnya meninggal," tutur Hendra.
Baca juga : Rampok Minimarket di Depok Ditangkap (1 Tembak Mati, 1 Tembak Kaki, 1 Nggak Ditembak)
Mayatnya diturunkan di tepi jurang, kemudian keempatnya kabur membawa mobil milik korban. Namun, karena dari keempat pelaku tidak ada yang bisa mengemudikan mobil, IK yang masih di bawah umur tersebut akhirnya mengemudikan mobil. Baru sampai di Kota Cimahi, mobil mengalami kecelakaan tunggal. Karena itulah mobil ditinggalkan. "Kebetulan di sana ada cctv, yang bisa membantu kita mengidentifikasi siapa yang waktu itu menggunakan mobil ini. Dari sana kita bisa menemukan pelaku-pelakunya," terang Hendra.
Setelah dua pekan, polisi berhasil meringkus pelaku di lokasi berbeda, Kabupaten Bandung, dan Bekasi. Dari hasil penyelidikan, polisi menduga empat gadis tersebut memiliki hubungan 'spesial'. IK saat ekspose oleh polisi tidak dihadirkan karena masih di bawah umur.
Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan mengungkapkan fakta di balik pembunuhan tersebut. Fakta terungkap setelah polisi mendalami motif dan alasan pelaku datang ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. "Mereka punya hubungan 'khusus'," ujar Hendra.
Baca juga : Efek Covid-19, Koki Nekat Maling Sembako
Keempatnya diduga belum lama saling kenal. Sebab, asal daerah mereka yang berbeda. IK (15) dan SL (19) berasal dari Bekasi, sedangkan RM (18) dan RK (20) dari Kabupaten Bandung. Keempatnya juga kenal lewat aplikasi kencan. Dari sana mereka berkomunikasi dan menjalin hubungan.
Kasat Reskrim Polresta Bandung AKP Agta Buana Putra membenarkan hal tersebut. "Kami mendalami motif-motif para pelaku ini," ucapnya. "Setelah itu ditemukan bahwa memang ada hubungan 'spesial' di antara wanita ini," Agta menambahkan.
Berdasarkan keterangan tersangka, kata Agta, mereka bertemu di aplikasi kencan. Merasa cocok, mereka pun terus berkomunikasi melalui aplikasi tersebut. Empat gadis tersebut merupakan dua pasangan. "Iya, dua pasangan. Mereka mengenal kurang-lebih sekitar 3 sampai 4 bulan," kata Agta.
Empat gadis sadis tersebut diganjar pasal tentang pembunuhan, pembunuhan berencana, turut serta membantu dan pencurian disertai kekerasan. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara atau maksimal seumur hidup.(LHTJ)