LampuHijau.co.id - Seorang pria ditemukan Gantung diri di Jalan Harapan Mulya, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Kamis (11/1/2024) malam, pria tersebut diketahui berinisial RP (28). Chaidar, kerabat RP mengatakan, korban mengakhiri hidupnya karena sudah pusing terlilit hutang. Ditambah beban pikiran karena tidak diperbolehkan bertemu anak kandungnya oleh mantan istrinya.
"Motifnya kalau kita baca dari surat wasiat, kayanya dia banyak pikiran, salah satunya pinjamannya (hutang) kemarin juga dia sempat kena hipnotis, ditambah urusan sama anaknya dia kan statusnya duda jadi sama mantan istrinya ga dibolehin ketemu sama anaknya lagi," ucap Chaidir saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (12/1/2024).
Chaidir mengaku, surat wasiat yang ditulis RP mengatakan bahwa RP tidak terlilit hutang judi online. Melainkan, keteledoran RP yang selalu salah transfer uang sehingga dirinya diharuskan meminjam uang dari koperasi keliling.
Baca juga : Gebrakan Baru Hendry, PWI Bakal Kembalikan Marwah Organisasi
"Kalau judi online sih dia engga, cuma kan pinjaman koperasi keliling gitu, jadi dia ngomong disitu dari bahasanya surat wasiatnya ternyata selama dia menjaga (toko pulsa) itu sering salah transfer makanya dia gak pernah cerita ke saya, pinjamlah dia uang di koperasi keliling, mungkin dia ada beban banget dipikirannya, terlilit hutanglah ibaratnya kalau dari surat wasiat begitu," tutur Chaidir.
Sebelumnya diberitakan, seorang pria berinisial RP (28) ditemukan tewas gantung diri di sebuah ruko Jalan Harapan Mulya III, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2024) malam.
Menurut Kanitreskrim Polsek Kemayoran AKP Fauzan, pria berinisial RP (28) itu tewas gantung diduga telah merencanakan aksinya.
Baca juga : Kapolsek Cipeundeuy Beri Bantuan kepada Janda Berusia 83 Tahun di Desa Lengkong
“Hasil pemeriksaan cek TKP dan saksi-saksi, yang bunuh diri memang sebelumnya sudah merencanakan,” kata Fauzan saat dihubungi, Jumat (12/1/2024).
Berikutnya, polisi menemukan sebuah buku catatan yang berisi curahan hati RP yang mana didalamya terdapat pin handphone milik RP. Dalam catatanya, RP mengaku hidupnya sangat berat sehingga dia menghabisi nyawanya sendiri.
"Dia enggak ada tempat untuk mengadu, ingat sama ibunya yang sudah meninggal di Riau sana. Dia bilang pengen ikut, pengen ketemu ibunya. Dia minta agar pemakamannya disandingkan dengan ibunya di Riau,” tutur Fauzan.
Baca juga : Kisah Pilu Buruh Tani dan Keluarganya, Puluhan Tahun Tinggal di Rumah Reyot
Usai dievakuasi, jasad RP dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).