Tersangka Penyerang Sopir Bus yang Tewaskan 12 Orang Menderita Ketegangan Kecemasan

Kapolres Majalengka AKBP Mariyono menerangkan penyakit yang diderita Amsor, tersangka kasus kecelakaan bus di Tol Cipali. (Foto: MGN)
Jumat, 21 Juni 2019, 19:05 WIB
Kriminal

LampuHijau.co.id - Tim Psikologi Polda Jawa Barat (Jabar) dan Mabes Polri mengetes psikologi Amsor, tersangka kasus kecelakaan Bus Safari Lux Salatiga, yang menewaskan 12 orang dan 32 orang luka di KM 151 arah B Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) masuk wilayah hukum Polres Majalengka.

Kepala Polres Majalengka AKBP Mariyono mengatakan, hasil tes ternyata tersangka memiliki paranoid dan ketegangan kecemasan (tension axciety). Selain itu, lanjut Kapolres, pemuda asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon ini, juga terdapat gangguan persepsi bahwa yang bersangkutan merasa diikuti dan diawasi oleh seseorang sehingga berhalusinasi pada dirinya.

Baca juga : Cewek Korban Pemerkosaan Taksi Online Tewas Bugil di Underpass Cawang

Dalam kondisi psikologi seperti itu, kata Kapolres, saat kejadian Amsor seolah-olah merasa sopir bus menerima panggilan telepon dari orang lain dan seakan-akan membicarakan rencana pembunuhan terhadap dirinya. "Yang bersangkutan mengalami indikasi memiliki gangguan kejiwaan yang mengarah kepada gangguan kejiwaan neorotik, psikotik dan paranoid sehingga perlu dilakukan tindak lanjut oleh saksi ahli," ujar Kapolres didampingi KBO Reskrim IPDA Jaenal, Kanit Pidum Heru S. Bahri, dan Kasat Lantas AKP Atik Suswanti di Mapolres Majalengka, Jumat (21/6/2019).

Setelah tersangka kesehatannya pulih, lanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter ahli jiwa. "Tersangka akan diperiksa dokter ahli jiwa," tegas Kapolres.

Baca juga : Vanessa Perroncel, Doyan Selingkuh dengan Pemain Bola

Kapolres menjelaskan, sebelum kejadian kecelakaan tersebut Amsor berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Kemudian di Terminal Pulo Gebang, Amsor pindah tempat duduk yang terletak di belakang sopir dan kondektur. "Waktu duduk di antara sopir dan kondektur, tersangka mendengar sopir berbicara 'tak pateni neng aku' (aku bunuh kamu) dan kondektur melirik ke Amsor (padahal tidak saling mengenal)," ucap Kapolres.

Amsor, lanjutnya, secara tiba-tiba berupaya untuk memberhentikan bus dengan cara melompat dan menduduki posisi sopir serta berusaha mengerem bus agar berhenti. Akibatnya, malah menjadi fatal. Bus tidak terkendali dan malah menyeberang ke jalur berlawanan, dan bertabrakan dengan kendaraan lain. Sehingga menyebabkan 12 orang meninggal dunia dan 32 orang menderita luka. (MGN)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal