LampuHijau.co.id - Perkelahian duel satu lawan satu berakhir pada pembunuhan terjadi di Kampung Bulak, Serua, Tangerang Selatan, Senin (17/1) pagi. Belakangan diketahui keributan berujung maut itu terjadi antara seorang pedagang gorengan dan rentenir yang hendak menagih utang 350 ribu.
Dalam pertikaian itu, seorang rentenir yang diketahui bernama Namira Siregar, tewas usai diterjang senjata tajam oleh pedagang tersebut.
Saksi mata kejadian, Evan Kautsar (17) menuturkan, insiden itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, keributan sempat terjadi antara kedua pihak. "Awalnya saya lagi di depan terus dengar ada warga yang ngasih tahu, nih ada yang ribut. Terus saya langsung ke lokasi," ungkap Evan di lokasi.
Ketika ia tiba di lokasi, teras kontrakan sudah dipenuhi darah. Ia melihat dua orang tergeletak di tepat di depan pintu kontrakan. Kala itu, Evan sempat mendengar korban merintih kesakitan. Sembari meminta tolong padanya.
"Saya melihat sudah bersimbah darah banyak. Sudah tergeletak saja gitu. Korban sempat minta tolong ke saya, tapi saya takut kesalahan. Saya langsung lari ke pos polisi," tuturnya.
Baca juga : Tersangka Mafia Tanah Tukang AC Belum Ditahan, Ini Kata Polisi
Tak lama, polisi pun datang. Namun, korban sudah tak terselamatkan. Sedangkan pedagang gorengan, dalam keadaan kritis. "Korban sudah enggak sadar diri, terus tukang gorengan masih bergerak, sudah lemas. Kritis gitu," imbuhnya.
Diduga, korban disabet senjata tajam tepat di bagian leher. Sehingga harus kehilangan banyak darah, dan tewas seketika. "Kalau rentenir itu saya lihat di leher," imbuhnya.
Menurut Evan Seorang penagih utang bernama Namira Siregar, yang meregang nyawa sempat merintih meminta pertolongan kepada warga sekitar yang ada di lokasi. Rintihan itu ia ucapkan di penghujung hayatnya, saat darahnya mengalir dari luka yang menganga tepat di lehernya. "Tolong saya. Tolong, tolong," kisahnya.
Setelah mendengar rintihan itu, Evan tak langsung menolongnya. Ia memilih untuk bergegas melaporkan peristiwa yang disaksikannya itu ke pihak berwajib. Namun tak lama, korban mengembuskan nafas terakhirnya. Nyawanya tak tertolong akibat kehabisan banyak darah.
"Saya takut kesalahan. Bank keliling (penagih utang) itu minta tolong, kondisinya sudah lemas. Bersimbah darah dan tergeletak. Ada luka di bagian lehernya," tuturnya.
Korban yang merupakan penagih utang itu, kata Evan, sempat terlihat beberapa kali mondar-mandir. "Sering mondar-mandir, kata orang memang bank keliling suka nagih. Tapi saya pikir saudaranya, makanya enggak tahu," kata Evan.
Kapolres Tangsel AKBP Sarly Sollu membenarkan kejadian itu. Menurutnya kejadian itu bermula korban mendatangi rumah pedagang yang belakangan diketahui berinisial CS. Kedatangan korban bertujuan hendak menagih utang senilai ratusan ribu. "Menagih utang senilai Rp350 ribu. Ditagih kepada CS ini," ujar Sarly Sollu kepada awak media, Senin, 17 Januari 2022.
Namun, lantaran pedagang tersebut belum memiliki uang, utang pun tak dapat dibayarkannya. "Sehingga MS tersulut emosi. Terjadilah pemukulan pada bagian kepala (CS atau pedagang). CS akhirnya tidak terima," tuturnya.
Hal itu pun membuat CS naik pitam. Sehingga duel antara keduanya pun tak dapat dihindari. Mereka bertikai saling menggunakan senjata tajam. Akibatnya, baik pedagang ataupun penagih utang mengalami sejumlah luka. Namun akibat luka yang parah dan kehilangan banyak darah, nyawa penagih utang tak terselamatkan.
"Korban meninggal, terdapat sayatan di lehernya dan bagian belakang, serta depannya. Kita belum dapatkan hasil visum dari dokter, namun secara kasat mata yang mematikan itu sabetan di leher," terangnya.
Baca juga : Ibu Dihalangi Bertemu dengan Anak, Mantan Suami Dilaporkan ke Polisi
Sedangkan pedagang, kini masih menjalani penanganan medis di salah satu rumah sakit di bilangan Ciputat, Tangsel. "Kondisi pelaku (pelaku) juga ada beberapa sayatan di badannya termasuk di tangannya dan saat ini dalam perawatan di rumah sakit," katanya.
Sarly Sollu menyebut, senjata tajam tersebut bukanlah benda yang sudah disiapkan. Melainkan memang sudah ada di lokasi tanpa kesengajaan. "Ya yang jelas keterangan pelaku CS, bahwa parang dan pisau itu sudah ada di situ dan memang tidak disiapkan. Senjata tajam itu digunakan CS sehari-hari dalam kegiatannya jualan gorengan," paparnya.
Ia menegaskan, saat ini kasus pembunuhan tersebut masih dalam penyelidikan. Pihaknya kini masih mengumpulkan keterangan, sembari menunggu kondisi pedagang tersebut pulih. (WAH)