Korban Penembakan di Exit Tol Bintaro Dijuluki "Wartawan Paparazzi", Kelompok Penguntit Tamu Hotel

Kamis, 2 Desember 2021, 17:55 WIB
Kriminal

LampuHijau.co.id - Kasus penembakan oleh Polantas terhadap dua orang di exit tol Bintaro, Jakarta Selatan, terus memantik perhatian publik. Beredar kabar, korban penembakan adalah gerombolan oknum yang mengaku-ngaku wartawan atau yang kerap dijuluki "wartawan paparazzi".

Mereka menggunakan embel-embel wartawan untuk menakuti korbannya untuk tujuan memeras. Rabu (1/12/2021), wartawan Lampu Hijau mencoba mencari jejak keberadaan kelompok Paparazzi ini. Dari informasi, kelompok ini umumnya berdomisili di Bekasi, seperti di Rawalumbu dan Cibitung.

BS (43), narasumber Lampu Hijau, mengaku mengenal dekat kelompok Paparazzi. Bahkan, ia membenarkan PP (43), korban penembakan yang tewas di Tol Exit Bintaro, merupakan kelompok Paparazzi. "Dia belum lama bergabung, baru sekitar dua bulan. Tadinya, dia bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah pabrik baja di Cibitung selama belasan tahun," ungkap BS saat ditemui di Bekasi.

BS tak tahu kenapa akhirnya PP bergabung dengan kelompok itu. Hanya saja, BS menyebut bahwa PP sudah diingatkan sahabatnya dari Tebing Tinggi, untuk tak bergabung dengan kelompok Paparazzi. Selain memiliki risiko yang besar, diungkapkannya, anggota Paparazzi juga sudah banyak yang tertangkap polisi.

"Mungkin PP tertarik dengan iming-iming dari kelompok itu, padahal sebelumnya sudah diingatkan jangan masuk ke situ (kelompok Paparazzi)," kata BS BS yang juga berprofesi sebagai wartawan koran mingguan, juga sempat diajak bergabung dengan rekannya sesama orang Sumatera Utara itu. Namun, dia menolak karena alasan kerap melakukan pemerasan.

Baca juga : Perahu Penyeberangan Terbalik di Sungai Cipunagara, Satu Warga Compreng Hilang

*Korban Acak*

Kelompok Paparazzi memiliki tongkrongan khusus di daerah Rawalumbu dan Cibitung. Biasanya, sebelum atau sesudah beraksi, mereka berkumpul di sana. Seperti yang tampak pada Rabu (2/11/2021) malam. Beberapa di antara mereka berkumpul di sebuah warung kopi di Jalan Setia Kawan, Rawalumbu atau tak jauh dari restoran cepat saji.

BS yang berasal dari Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara itu menyebut, ada beberapa kelompok Paparazzi yang beroperasi dengan modus sama. Adapun kelompok lama yang terkenal yakni kelompok Bekasi Timur, Bekasi Selatan, dan kelompok Kalimalang.

Sebelum beraksi, masing-masing kelompok itu melakukan sejumlah persiapan. Pertama, mereka biasanya meminjam uang kepada rentenir sebagai biaya operasional termasuk menyewa mobil hingga berhari-hari. "Satu kelompok Paparazzi biasa sekitar 8 orang setiap beroperasi. Bisa dua sampai empat mobil, dan kadang sampai tidak pulang selama beberapa hari," ungkapnya.

Setelah melakukan persiapan, kelompok ini memulai operasi dengan menunggu korban di sekitar hotel transit. Saat korban keluar dengan kendaraan, mereka mulai membuntuti.

Baca juga : Kecelakaan di Tol Cipali Purwakarta, 10 Orang Meninggal Dunia

"Mereka mengikuti korban sampai rumah. Adapun spekulasi bahwa itu pasangan selingkuh, biasanya mereka melihat ketika si perempuan dan lelaki tidak satu tujuan pulang," ungkapnya.

Saat si perempuan turun di suatu tempat, Paparazzi mulai membagi tugas. Sebagian menguntit si perempuan sampai rumah. Sebagian lagi, membuntuti si pria juga sampai rumah.

"Barulah mereka mulai menunjukkan foto dan mengancam akan memberitahukan ke pihak keluarga tentang perselingkuhan itu. Mereka juga mengancam akan mempublikasikannya di media," papar BS.

BS mengakui, mayoritas korban takut dengan ancaman itu dan memberikan sejumlah uang yang diminta. "Bahkan tidak jarang pemerasan itu akan berlanjut dengan pelaku yang berbeda yang juga teman mereka. Kalaupun korban tak punya uang, barang apapun bisa diminta demi menutup pinjaman modal kelompok Paparazzi ini," ungkapnya.

BS menambahkan, adanya insiden penembakan yang menewaskan PP, membuat para Paparazzi lain kini 'tiarap' sementara waktu. "Mereka lagi cooling down, tiarap dulu sejak ada kasus penembakan itu," tandasnya.

Baca juga : Kurang Perhatian, Lemonilo Berikan Bantuan Untuk Para Pengemudi Taxi

Seperti diketahui, Polda Metro Jaya memastikan kasus penembakan di exit tol Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan dilakukan oleh Polantas angggota PJR Polda Metro Jaya, yakni Ipda OS, (27/11/21) dini hari. Berawal dari Ipda OS mendapat laporan dari warga inisial O yang belakangan disebut-sebut Staf Khusus DPRD DKI Jakarta. Inisial O ini melapor ke Ipda OS jika Suzuki Ertiga nopol B 1879 RFJ yang dibawanya dikuntit beberapa mobil, termasuk ada MA dan PP sejak dari Hotel Kedaton, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Lalu, Ertiga diarahkan inisial O ke exit tol Bintaro sesuai instruksi Ipda OS. Hingga terjadilah insiden penembakan yang menewaskan PP.

Namun, dari kasus ini, Ipda OS belum ditetapkan menjadi tersangka dan masih diperiksa Propam. Sebab ada kemungkinan ia hanya membela diri atau melindungi masyarakat yang dalam kondisi terancam keselamatannya. (RBN)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal