LampuHijau.co.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan ada tiga fase pembangunan di DKI Jakarta. Hal ini diungkapkan dalam webinar “Sejarah sepak bola dan Stadion Kita”, yang membahas keberhasilan proyek Jakarta International Stadium (JIS).
Menurut Anies, pembangunan JIS tersebut perlu dipandang tidak hanya sebagai bangunan fisik. “Kami selalu menggarisbawahi, ketika kita melakukan kegiatan pembangunan, ada tiga fase yang dilalui. Yakni, gagasan, narasi dan eksekusi atau karya,” ujar Anies di Jakarta, Kamis (29/7/2/21).
Baca juga : Rekan Indonesia Masuk Gang, Beri Makan Siap Santap untuk Warga DKI yang Isoman
Sehingga, ungkapnya, di belakang sebuah eksekusi atau karya ada narasi dan gagasan. Begitu pula dengan proyek JIS. Terlebih, tegasnya, Jakarta merupakan kota megapolitan terbesar di belahan selatan dunia.
Dikatakan Anies, kota Jakarta bukan hanya Ibu Kota Indonesia, tapi juga merupakan ibu kota ASEAN. Kota ini merupakan simpul dari budaya, suku yang ada di Indonesia. Tidak ada kota yang memiliki keterwakilan selengkap Jakarta.
Baca juga : Halalbihalal IKWI Jaya, Pandemi Bukan Halangan untuk Terus Berbagi
"Kota ini memiliki sejarah yang panjang sehingga menjadi seperti sekarang ini. Jadi, ketika ada stadion, maka stadion ini harus bisa mencerminkan tempat berkumpul seluruh masyarakat dengan merasakan kesetaraan dan kesamaan yang membuat seluruh warga tersatukan,” kata Anies.
Dalam menyusun gagasan desain, ungkap Anies, pembuatan atap yang bisa buka-tutup dilakukan untuk mengakomodasi lokasi di Khatulistiwa, yang seringkali membuat pertandingan sepakbola harus digelar sore atau malam hari. “Karena kalau dilakukan di siang hari, akan menyita energi yang luar biasa. Di sisi lain, di kota ini di mana mayoritas penduduknya harus melakukan kewajiban ibadah salat Maghrib yang waktunya sangat pendek,” ungkap Anies.
Baca juga : Tiang Pertama Pembangunan IBS RSUD Banyumas Terpancang
Dengan adanya atap buka-tutup ini, tegas Anies, maka pertandingan sepak bola bisa dilakukan kapan saja. Bahkan, ungkapnya, rancangan stadion ini bisa membuat penonton seperti menonton dari dekat. Bahkan, lanjutnya, JIS juga tidak hanya bisa digunakan untuk pertandingan sepak bola semata. Namun bisa digunakan untuk kegiatan keagamaan, seni budaya dan lainnya.
“Ketika gagasan ini dibuat sebagai tempat berstandar internasional, akomodatif, dan bisa memfasilitasi berbagai jenis kegiatan, maka muncullah karyanya,” tandasnya. (ULI)