LampuHijau.co.id - Hampir dua tahun Indonesia disibukkan oleh wabah Covid 19. Sejak awal Maret 2020, bangsa ini dicekam oleh hantu menakutkan yang bernama Covid 19.
Akibat yang ditimbulkan bukan hanya pada kesehatan masyarakat, tapi juga perekonomian masyarakat yang kian hari semakin merosot. Selama pandemi Covid 19, kita semua hampir dibuat frustasi dalam menjalankan kehidupan yang serba menjadi sulit.
"Selama pandemi pula kita dengan mata telanjang bisa melihat kebijakan pemerintah yang serba tidak jelas, dibmana kebijakan dalam melakukan penanggulangan covid 19 seperti tidak memiliki strategi yang tepat. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak juga kunjung membuat bangsa ini lepas dari wabah Covid 19," kata Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Kamis (1/7/2021).
Padahal, ujar Agung, Indonesia sudah punya pengalaman bagaimana menghadapi flue burung. Seharusnya, oleh pemerintah saat ini pengalaman itu dijadikan referensi untuk saat ini bagaimana Indonesia menghadapi Covid 19.
"Saat itu semua ahli pandemic, laboratorium-laboratorium pemerintah dan perguruan tinggi, kalangan akademik, dan dokter berjalan satu komando dengan fokus utama adalah meneliti virus flu burung tersebut. Penelitian dititikberatkan pada seperti apa tingkat bahayanya, bagaimana penularannya, dan apa kelemahannya, dan hasilnya Indonesia bisa keluar dari cengkraman bahaya flu burung. Bahkan saat flu burung pemerintah membentuk Komisi Nasional (Komnas) Flu Burung," paparnya.
"Lalu kenapa sekarang saat virus cov-2 penyebab covid 19 mewabah, pemerintah tidak menerapkan strategi yang sama ? Di mana virus tidak dilihat sebagai objek utama yang harus diteliti untuk mengetahui tingkat bahayanya, bagaimana penularannya, dan apa kelemahannya.
Justru malah risiko terpapar virusnya yang dikabarkan ke publik. Sehingga pemerintah lebih memunculkan ketakutan kepada masyarakat terhadap covid 19 dan tidak terlihat upaya yang strategis dari pemerintah dalam menanggulangi bahaya Covid 19," tambah Agung.
Pemerintah saat ini dalam menanggulangi covid 19, menurut Agung, seakan-akan berdasarkan asumsi. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan hanya kebijakan yang mengatur berdasarkan pembatasan pergerakan orang. Bukan melakukan penelitian terhadap virus cov-2 tersebut.
Baca juga : Dinkes Subang Minta Satgas Desa agar Mengoptimalkan Penanganan Covid-19
"Pemerintah seperti tidak memiliki peta yang lengkap tentang virus cov-2 ini. Sehingga bisa mengeluarkan kebijakan berbasis penelitian yang ilmiah sehingga menghasilkan strategi ini yang tepat dan terarah dalam menghadapi wabah covid 19," ungkapnya.
Sampai sekarang pun pemerintah belum bisa menjelaskan dari mana awal masuknya virus cov-2 di Indonesia. Bukan karena Indonesia tidak bisa men-tracking dari mana awal masuknya virus ini, tapi karena pemerintah lebih mengutamakan menghadapi resiko kesehatan dari virus ini ketimbang melakukan penelitian terhadap virus cov-2. Dan juga belum bisa menjelaskan bagaimana virus cov-2 bisa menularkan dari mansuia ke manusia.
"Pelibatan laboratorium yang ada di Indonesia pun saat ini sangat lemah. Di mana jejaring laboratorium yang dimiliki oleh negara ini hanya diberdayakan untuk upaya testing. Dan tidak pernah didorong untuk melakukan penelitian terhadap virus cov-2 tersebut.
Pemerintah dalam melakukan penangganan terhadap wabah covid 19 hanya berdasarkan literasi dari luar negeri yang belum tentu sama dengan kondisi di Indonesia. Hasilnya seperti yang kita lihat saat ini yaitu kebijakan yang tidak jelas dan terkesan tambal sulam," ungkap Agung. Wabah itu adalah penyakit, termasuk Covid 19.
Baca juga : Enam Warga Subang Meninggal, Tujuh Gang Ditutup untuk Memutus Penyebaran Covid-19
"Seharusnya pemerintah harus memprioritaskan pencegahan kematian karena covid 19. Dimana kematian karena covid 19 menyerang masyarakat yang memiliki, dengan memprioritaskan pencegahan terhadap kematian maka fasilitas kesehatan tidak mengalami over load pada ruang isolasi yang membutuhkan peralatan khusus. Pemerintah akan lebih mudah mengatasi covid 19 karena hanya mengurus masyarakat yang tertular dan tidak bergejala berat yang menyebabkan kematian," lanjutnya.
Untuk itu, pemerintah diharapkan segera melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kebijakan penanggulangan covid 19 yang sudah dijalankan selama ini. Agar bangsa ini memiliki kepastian dalam mengejar harapan untuk bisa terbebas dari wabah Covid 19.
"Selama menunggu pemerintah terpanggil dan terbuka matanya untuk melakukan evaluasi penanganan covid 19, masyarakat harus bisa menjaga dirinya sendiri dengan mematuhi dan menjalankan prokes 5M. Terutama kedisplinan memakai masker. Karena masker ini penting untung menghidari virus cov-2 masuk melalui hidung, yang bisa lanjut masuk ke dalam tubuh.
Maka di dalam tubuh virus akan di gempur oleh anti body kita. Disitulah virus akan memutasi diri dalam tubuh kita. Dengan disiplin memakai masker maka kita memperkecil peluang kita terpapar virus cov-2," tutup Agung. (ULI)