LampuHijau.co.id - Dua orang berambut cepak berdiri tegap di sisi kanan gerbang Masjid Ramlie Musofa. Keduanya memakai seragam hitam dan sama-sama pakai sepatu pantofel. Sekilas, ada kesan gahar dari tatapan matanya. Tapi ada sikap gagah dari cara bicaranya.
Begitu masuk, semua kesan itu luntur. Terlebih ketika mereka menempelkan dua telapak tangan sebagai simbol penghormatan. Satu langkah maju, keduanya senyum dan mengucap salam. Itulah tugas yang diemban pria-pria cepak ini sebagai satpam. Masjid Ramlie Musofa memang menerapkan kemananan sebagai sarana menjaga kekhusyukan ibadah. Tak heran jika Rumah Allah yang satu ini nyaris tak pernah sepi saat azan berkumandang.
"Keamanan sengaja kami terapkan supaya orang yang beribadah tetap merasa aman dan nyaman. Lebih baik kami mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Sofian, putra pendiri Masjid Ramlie Musofa saat ngobrol bareng di area masjid, kemarin.
Baca juga : Makin Bertambah, Jumlah KPPS yang Meninggal Jadi 469
Masjid yang terletak di Jalan Danau Sunter Selatan, Sunter, Jakarta Utara ini dibangun pada tahun 2011 dan diresmikan pada tahun 2016. Sebagai pendiri, tanda tangan Ramli Rasidin dibubuhkan bersama Imam Besar Istiqlal Nasruddin Umar, pada prasasti yang diletakkan di teras lantai depan sebelah kiri.
Masjid ini berlantai 3, di mana bagian dasarnya digunakan untuk jemaah perempuan. Sedangkan lantai 2 dan 3 digunakan untuk laki-laki. Kamar kecil dan tempat wudhu ada di sebelah kanan. Tangga menuju lantai dua ada di paling depan. Di samping kanan kiri tembok, terdapat tulisan Al-fatihah dan Al-Karomah. Kedua ayat suci itu menyambut siapa saja umat islam yang datang. Uniknya, mulai dari penulisan masjid sampai terjemahan Al-fatihah terdapat aksara Tiongkok yang mengekor di bawahnya. Aksara ini juga menarik banyak orang untuk berswafoto.
"Lambang dan aksara mandarin itu sebagai identitas bahwa kami ingin berkontribusi terhadap kemajuan Islam," kata Sofian.
Baca juga : PNS Pesta Pora, THR dan Gaji Ke 13 Cair, Libur Lebaran 11 Hari
Masuk ke bagaian dalam, kaligrafi lain terpampang di kaca imam. Semua tembok dicat dengan warna putih. Lantai dan tiang dilapisi marmer. Secara keseluruhan, masjid ini mirip sekali dengan Taj Mahal. "Seperti yang kita tau bahwa Taj Mahal adalah monumen cinta dari suami kepada isteri. Nah, ayah saya juga berharap masjid ini sebagai lambang cinta kepada Allah, kepada agama dan kepada keluarga," katanya.
Menurut Sofian, masjid Ramlie Musofa pernah menampung 1.500 jamaah untuk pelaksanaan shalat ied. Kemudian pernah menjadi tempat hijrah bagi sejumlah orang untuk proses mualaf. "Silahkan juga bagi pasangan yang mau prewedding di sini. Intinya, kami berharap Ramlie Musofa menjadi penanda kebangkitan anak muda untuk mencintai dan memakmurkan masjid," katanya.
Ramli Rasidin adalah pria keturunan yang menjadi pengusaha sukses sejak tahun 1960-an. Ia menjadi mualaf pada tahun 1964 di Aceh. Pada tahun 1970 ia pindah ke Jakarta. Saat itu, usahanya sempat bangkrut berkali-kali. Namun, berkat kegigihannya, dia mampu mengembalikan keadaan. (Sep)