Sebuah Catatan Internasional Nursing Day 2021

Perawat, Kesejahteraan dan Kekerasan Terhadap Perawat

Senin, 17 Mei 2021, 11:14 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Hari ini, 75 tahun lalu, tepatnya 12 Mei 1974, dibuatlah peringatan Hari Perawat Internasional oleh the International Council of Nurses (ICN).

Dilansir Ensiklopedia Britannica, acara ini untuk menyoroti peran penting perawat dalam perawatan kesehatan dan memperingati kelahiran filsuf dasar keperawatan modern Florence Nightingale.

Nightingale menjadi tokoh penting dalam keperawatan karena jasanya selama Perang Krimea tahun 1850-an. Saat itu dia bertugas di Rumah Sakit Barrack di Scutari (Üsküdar, sekarang distrik Istanbul).

Dia memimpin sekelompok perawat yang merawat tentara Inggris. Dia terkejut dengan kondisi fasilitas rumah sakit ketika pertama kali tiba. Akhirnya dia memberlakukan standar perawatan yang ketat dan memastikan bahwa bangsal tetap bersih serta persediaan makanan dan obat-obatan tercukupi. Pengalamannya di Scutari membawanya ke kampanye untuk reformasi di dalam dunia perawatan.

Pada tahun 1860, dia membuka Nightingale School of Nursing di St. Thomas Hospital di London. Keberhasilannya mendirikan sekolah itu mendorong pembentukan sekolah pelatihan serupa untuk perawat di tempat lain.

Setiap tahun ICN memperingati Hari Perawat Internasional dengan memproduksi dan mendistribusi materi promosi dan pendidikan. Tema setiap tahunnya berbeda. Pada 1990 temanya Perawat dan Lingkungan.

Lalu pada 2004 temanya Bekerja dengan Kaum Miskin; Against Poverty. Namun, Florence memiliki cita-cita dan jalan hidup sendiri. Dia memilih dengan bekerja sebagai perawat. Orang tuanya sempat menentang karena pada zaman itu perawat dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Florence bergeming. Ia tetap menjalani karier sebagai perawat hingga kelak namanya masyhur sebagai pendiri keperawatan modern.

Namanya lekat dengan profesi keperawatan seperti lekatnya nama Hipokrates dengan profesi kedokteran. Florence mendapat julukan The Lady with the Lamp (perempuan pembawa lampu) karena kegigihannya merawat para tentara Inggris hingga larut malam selama Perang Krimea.

Baca juga : PT Taekwang Tindak Tegas WNA yang Lakukan Kekerasan Terhadap Karyawan

Perjuangannya itu diganjar penghargaan tinggi oleh Ratu Victoria, yang kemudian membuat keluarganya bangga. Sejak saat itu, Florence dikenal sebagai pahlawan bagi masyarakat Inggris, hingga hari ini. Bahkan, rumah sakit darurat untuk pasien Covid-19 di Inggris diberi nama Rumah Sakit Nightingale untuk menghormati jasa-jasanya.

Tidak hanya sebagai perawat, Florence juga dikenal sebagai seorang reformis sosial. Dia banyak mengadvokasi isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan, salah satunya mendorong disahkannya Undang-undang Kesehatan Masyarakat di Inggris.

Dia juga secara terbuka menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat miskin dan kelas pekerja lewat komunikasinya yang intens dengan para pejabat Inggris yang memang banyak dikenalnya; sebagian bahkan kerabatnya.

Selain itu, Florence juga merupakan penulis yang piawai. Dia telah menulis ratusan artikel dengan berbagai topik. Salah satu yang paling terkenal adalah Notes on Nursing (Catatan tentang Keperawatan), yang terbit pertama tahun 1859.

Catatan ini menjadi dokumen acuan awal yang menjelaskan apa itu keperawatan dan apa yang membedakannya dengan medis. Ia juga menulis Notes on Hospital (Catatan tentang Rumah Sakit), yang memuat dasar-dasar pengelolaan rumah sakit. Kemajuan rumah sakit seperti sekarang tidak lepas dari buah pemikirannya.

Yang unik, meski dikenal sebagai pencetus keperawatan modern, di Wikipedia titel utamanya justru ahli statistik. Hal itu tidak lepas dari kepakaran Florence di bidang statistik. Mentornya adalah matematikawan dan ahli statistik ternama, Adolphe Quetlet. Bahkan, pada 15 Maret 2020 lalu, American Statistical Association (ASA) dalam situs This is Statistics menjuluki Florence sebagai The Lady with the Data.

Itu tidak lepas dari peran Florence menggunakan data statistik untuk menemukan penyebab tingginya kematian pasien. Dengan data tersebut, ia membuat diagram “coxcomb” yang pada zaman itu merupakan terobosan luar biasa. Berkat jasa-jasanya, tanggal lahir Florence dirayakan setiap tahun sebagai Hari Perawat Internasional.

Bahkan, 12 Mei sempat menjadi Hari Palang Merah Internasional sebelum diubah ke 8 Mei mengikuti tanggal lahir Henry Dunant. Tema hari perawat internasional tahun ini, seperti yang ditetapkan International Council of Nurses, adalah A Voice to Lead A Vision For Future Healtcare Tema ini seiring dengan situasi global sekarang yang sedang berjuang menghadapi pandemi Covid-19, di mana perawat menjadi tulang punggung sistem layanan kesehatan yang melindungi masyarakat di seluruh dunia.

Baca juga : Kepada Komunitas Internasional, Puan Serukan Perkuat Dukungan dan Bantu Palestina Tangani Covid-19

Termasuk dalam memimpin perubahan kesehatan, Tanpa perawat, apa jadinya kita? seperti yang pernah dilansir laman WHO, Menurut WHO, perawat berada di garis depan dalam memerangi epidemi dan pandemi.

Mereka memberikan perawatan dan perawatan yang berkualitas tinggi dan terhormat. Mereka seringkali merupakan profesional kesehatan pertama dan terkadang satu-satunya yang dilihat orang. Disampaikan juga bahwa dunia masih kekurangan perawat sejumlah 5,9 juta perawat, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Pandemi Covid-19 adalah pengingat dari peran vital perawat. Tanpa perawat dan petugas kesehatan lainnya, kami tidak akan memenangkan pertempuran melawan wabah, kami tidak akan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau cakupan kesehatan universal," tulis WHO. WHO mendesak kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan: Keselamatan dan kesehatan kerja perawat serta semua petugas kesehatan, Termasuk memastikan akses tanpa hambatan ke APD.

Perawat dan semua petugas kesehatan mendapatkan fasilitas kesehatan mental, pembayaran tepat waktu, Cuti sakit, dan Asuransi. Selain itu juga memiliki akses ke pengetahuan dan panduan terbaru yang diperlukan untuk menanggapi semua kebutuhan kesehatan, termasuk wabah.

Perawat diberi dukungan keuangan dan sumber daya lain yang diperlukan untuk membantu merespons dan mengendalikan COVID-19 dan wabah di masa depan. World Health Organization (WHO) menetapkan 2020 sebagai Tahun Internasional Perawat dan Bidan. Itu juga bertepatan dengan peringatan dua ratus tahun kelahiran Florence Nightingale. Sayangnya, sampai hari ini perawat masih kurang mendapatkan apresiasi dan kesejahteraan mereka belum mendapatkan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun pihak manajemen fasilitas layanan kesehatan.

Masih ada kasus kekerasan terhadap perawat, baik fisik maupun non-fisik, baik kasus lampau ataupun yang terbaru misalnya adalah kasus tindak kekerasan yang dialami oleh Sejawat Christina Romauli Simatupang (CRS) yang mengabdikan diri di RS. Siloam Sriwijaya Palembang Sumatera Selatan, kemudian disusul oleh kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukan oleh oknum masyarakat yang menamai diri sebagai ratu entok, hal tersebut sangat membuat gaduh dan kebisingan yang sangat menganggu aktivitas pelayanan dalam pemberian asuhan keperawatan kepada masyarakat, kasus-kasus kekerasan yang menimpa perawat ibarat fenomena gunung es hanya nampak dipermukaan saja hanya yang mengadu ke pengurus PPNI yang diketahui, namun masih banyak perawat enggan pula melapor apabila mengalami kasus serupa, baik kekerasan verbal maupun fisik.

Bila diukur dalam angka gaji, memang Gaji mereka sangat kecil jika dibandingkan dengan profesi lain. Bahkan, di beberapa tempat yang dihimpun dalam media sosial KOPI (Komunitas Perawat Indoensia) ada perawat hanya digaji seratus ribu rupaiah (Rp.200.000), tiga ratus ribu rupiah (Rp.300.000), bahkan ada perawat yang bekerja tanpa digaji hanya demi pengabdian semata.

Hal ini kontras dengan tanggung jawab dan beban kerja perawat yang sangat berat. Bahkan data Badan Bantuan Hukum (BBH-PPNI) tahun 2020 melalui posko aduan THR ada sekitar 385 mewakili pribadi dan kelompok institusi baik swasta maupun pemerintahan (honorer).

Baca juga : TPDI Minta Hentikan Praktek Trial By The Press Terhadap Herman Hery

Saya mendengar banyak perawat yang dirumahkan di tengah pandemi karena rumah sakit tidak sanggup membayar gaji mereka, sementara di tempat lain tenaga perawat sangat dibutuhkan.

Ini terjadi khususnya di rumah sakit swasta non-rujukan Covid-19, khususnya layanan rawat jalan, yang menggantungkan diri dari kunjungan rutin pasien. Ketika jumlah kunjungannya menurun drastis karena pandemi, kontrak para perawat yang “menganggur” pun diputus sepihak.

Sebuah anomali yang terjadi pada profesi mulia ini. Masih banyak isu-isu soal perawat dan keperawatan yang belum selesai, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, tahun ini adalah momen yang tepat untuk menyelesaikannya, dimulai dari mengapresiasi sekaligus memperhatikan kesejahteraan perawat.

Jika Florence Nightingale harus melewati Perang Krimea untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat, saya berharap pandemi Covid-19 ini membuka mata dunia tentang perjuangan para perawat.

Maka kami juga mendesak kepada pemerintah dan aparat penegak hukum, para pemberi kerja disektor jasa kesehatan untuk senantiasa memberikan perlindungan, keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama kepada seluruh Perawat, dan tenaga kesehatan tanpa kecuali selama menjalankan tugas kemanusiaan sehingga kasus kekerasan dan upah murah tidak lagi menimpa profesi perawat Selamat ulang tahun, Florence. Selamat hari perawat internasional! (Oleh: Maryanto, Ketua DPD PPNI Jakarta Utara, Sekretaris Badan Bantuan Hukum PPNI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal