Konsumen PT Indotruck Utama Digugat, Bermodalkan Surat Penghentian Penyelidikan

Minggu, 11 April 2021, 18:20 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Kasus dugaan laporan palsu yang disangkakan kepada Arwan Koty selaku konsumen PT Indotruck Utama terus bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kuasa Hukum Arwan Koty, Aritoteles SH mengungkapkan berjalannya kasus tersebut. Mengingat pelapor, yakni Presiden Direktur Utama (Presdir) PT Indotruck Utama, Bambang Prijono Susanto Putro katanya melayangkan gugatan hanya berdasarkan Surat Penghentian Penyelidikan dari pihak Kepolisian.

Surat Penghentian Penyelidikan tersebut pun diketahui berawal dari laporan kliennya yang melaporkan PT Indotruck Utama ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/3082/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimum Polda Metro Jaya pada tahun 2017 lalu.

Berita Terkait : Polres Indramayu Tangkap Empat Pencetak dan Pengedar Uang Palsu

Kliennya dipaparkan Aristoteles melaporkan Bambang Prijono Susanto Putro atas dugaan penggelapan terkait pembelian satu unit eskavator seharga Rp 1.265 milliar. Namun dalam perjalanan penyelidikan, pihak Kepolisian menerbitkan surat Penghentian Penyelidikan, yakni S.Tap/2447/XII/2019/Dit.Reskrimum ter tanggal 31 Desember 2019. Surat yang kemudian dijadikan Bambang Prijono Susanto Putro sebagai landasan menggugat kliennya atas dugaan laporan palsu.

Kliennya pun dilaporkan pihak PT Indotruck Utama ke Bareskrim Mabes Polri dengan nomor LP/B/00231/2020/Bareskrim tanggal 13 Januari 2020.

"Laporan yang dinilai bernuansa rekayasa dan tanpa bukti itu seharusnya tidak layak disidangkan, sebab pelapor membuat laporan hanya berdasarkan surat ketetapan penghentian penyelidikan," ungkap Aristoteles pada Minggu (11/4/2021).

Berita Terkait : Terdakwa Memohon Dirut PT Indotruck Utama Dihadirkan, Hakim: Itu Justru Menguntungkan Saudara

"Kami menilai, penyidik, penuntut umum dan majelis hakim yang menyidangkan perkara ini tidak obyektif dan tidak netral. Perkara ini merupakan perkara pesanan satu paket untuk mengkriminalisasi Arwan Koty," ungkapnya menduga.

Sebab, lanjutnya, Arwan Koty selaku konsumen telah menunaikan kewajiban dengan membayar lunas pembelian ekskavator kepada PT Indotruck Utama.

Namun, kliennya sebagai pihak pembeli katanya justru dizalimi dan dikriminalisasi pihak PT Indotruck Utama. "Sangat terlihat jelas hukum tumpul ke atas tajam ke bawah, pencari keadilan seperti Arwan Koty harus mengadu ke mana lagi jika majelis hakim selalu berpihak kepada penguasa atau orang kuat," kata Aris.

Berita Terkait : Dirut PT Indotruck Utama Mangkir Lagi, Dugaan Kriminalisasi Arwan Koty Semakin Menguat

Aristoteles menambahkan, sejumlah pihak dalam perkara tersebut belum diperiksa dan didengar keterangannya dalam persidangan. Khususnya Bambang Prijono Susanto Putro selaku pelapor.

Selain itu, saksi fakta yang membuat laporan gugatan, antara lain Asun, M Sofiaansyah, Anthony Wijaya, Henry Joedo Manurung.

"Saya meyakini bahwa perkara pidana ini pihak pelapor memiliki motivasi lain untuk menghilangkan tanggung jawabnya sebagai penjual Excavator. Penjual tidak mau menyerahkan alat berat yang dibeli Arwan Koty, sehingga mengkriminalisasi Arwan Koty dengan berbagai macam cara," ungkap Aristoteles. "Walau demikian, kebenaran akan terungkap," tegasnya. (RBN)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal