LampuHijau.co.id - Maraknya bangunan liar tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Jakarta Pusat menuai petaka. Seperti yang terjadi di pembangunan rumah kost berlantai 3 tak berizin di Jalan Kramat Pulo Gundul, RT 004/010, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Jumat (26/4/2019) ini. Akibatnya, 3 orang warga tewas tertimpa reruntuhan tembok. Korban tewas bernama Anna (50), Hilmi (balita) dan Doni Pakpahan (49) supir mikrolet M 35. Anna dan Hilmi tewas setelah tertimpa bangunan saat berada di salah satu kontrakan tepat di samping rumah yang roboh. Anna dan Hilmi ditemukan terjepit bangunan dan meninggal di tempat dalam posisi berpelukan.
"Dua orang berhasil kami evakuasi, keduanya ditemukan dalam reruntuhan pada posisi pelukan," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Hendra Sudirman, Jumat (26/4/2019).
Dalam upaya evakuasi, menurutnya pihaknya harus ektra hati-hati menginggat kondisi bangunan dikhawatirkan akan mengalami roboh susulan. Untuk itu pihaknya terpaksa harus menjebol dinding rumah warga untuk melakukan evakuasi. "Di sini kita terpaksa harus membobol dinding rumah warga, tadi kita sudah minta izin. Karena memang kondisinya harus dari samping upaya evaluasinya," katanya.
Baca juga : Pemkot Jakut Canangkan Kota Tanpa Kabel
Menurutnya hingga saat ini sudah tidak ada lagi korban yang terjebak, meski begitu pihaknya saat ini masih berupaya mengangkat sisa puing puing reruntuhan bangunan yang ada dengan mengerahkan berapa alat berat dengan dibantu alat-alat petugas damkar. Sedangkan 10 orang korban lainnya masih dalam perawatan medis. Mereka bernama Kristanto (24), Kristus (24), Assifa Syahsyahputra (17), Syarifudin, Aditya Drastis, Nur Diayana, Madura, Ardi, M. Sholeh dan seorang tanpa identitas.
Syarif (55) korban yang rumahnya ikut tertimpa bangunan rumah kost roboh menuturkan awal malapetaka kejadian itu. Peristiwa terjadi pada Jumat (26/4) jam 11 siang. Saat itu, situasi jalan sedang ramai lantaran hendak persiapan sholat Jumat. "Saat itu saya di rumah, lagi dibawah, lalu denger kayak suara gemuruh, nah anak saya yang laki itu ada di atas, dia teriak minta tolong 'pak tolong in pak'. Baru setelah itu saya coba keatas tolongin," kata Syarif di lokasi, Jumat (26/4/2019). Syarif melihat anaknya sudah tertimpa material bangunan, ia pun berusaha mencoba mengangkat puing-puing yang menimpa anaknya tersebut. Beruntung beberapa warga pun membantu dirinya hingga anaknya berhasil dievakuasi.
Sementara luka yang diderita anak Syarif tidak begitu parah, meski sempat dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Namun ia mengaku saat ini anaknya telah kembali ke rumah untuk menjalani rawat jalan. "Untung ada bambu, jadi anak saya ini ngak sampai ketiban, kalo ngak ada saya ngak tahu itu nasibnya bagaimana," ujarnya.
Baca juga : Koferprov PWI Jaya Diwarnai Pelanggaran PD/PRT dan Aksi WO
Syarif menjelaskan, bangunan rumah yang runtuh masih dalam proses renovasi pembangunan yang akan digunakan sebagai tempat kost berlantai 3. Ia menduga, penyebab pembangunan rumah kost yang ambruk tersebut dikarenakan pondasi bangunan yang tidak kokoh. "Pondasi coran ini tidak kuat, cuma disamping aja, yang disana engga ada corannya. Makannya ambruknya ke rumah saya, karena disebelah sana kan kehalang rumah," katanya.
Saat kejadian, sambungnya, rumah kost tersebut masih dalam tahap pembangunan. Di lokasi rumah roboh juga terdapat 5 orang pekerja bangunan. "Saat kejadian kelima pekerja tersebut tengah berada di atas, sehingga ketika ambruk mereka tidak tertimpa bangunan yang ada," terangnya. Kini jenazah maupun korban luka telah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo guna dilakukan perawatan medis.
Kepala Badan Penanggulagan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Subejo memastikan, total korban keseluruhan ada 13 orang. "Yang sudah kan 11 kita evakuasi dan sudah dilarikan ke RSCM kondisinya luka-luka. 1 meninggal itu dari supir angkot, dan dua meninggal yang barusan kami evakuasi," katanya. (RKY)