Black Box Sriwijaya Air Belum Ketemu, Menhub Bakal Dipanggil DPR

Selasa, 12 Januari 2021, 08:41 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Tim SAR Gabungan belum menemukan black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182, yang jatuh di perairan Pulau Seribu Sabtu (9/1) kemarin. Kini tim masih fokus untuk mencari black box tersebut. "Seperti black box kita masih pencarian. Basarnas bersama KNKT masih melakukan pencarian," ujar Kepala Basarnas, Marsdya Bagus Puruhito di Jakarta.  Bagus berharap, black box pesawat Sriwijaya Air segera ditemukan, agar KNKT bisa mengetahui penyebab jatuhnya pesawat rute Jakarta-Pontianak itu. Black box ialah sebuah alat perekam penerbangan atau flight recorder. 

Pada Minggu (10/1) kemarin Tim SAR Gabungan sudah menemukan titik keberadaan kotak hitam pesawat Sriwijaya Air. Hal itu disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Hadi menyampaikan tim gabungan pencari telah menandai lokasi yang diduga kuat merupakan black box milik pesawat itu.  "Saat ini terus berupaya untuk mendapatkan black box yang posisinya juga diduga kuat adalah posisi black box yang kita cari," ujar Hadi. 

Berita Terkait : Soal Tragedi Sriwijaya Air SJ 182, Komisi V DPR RI Segera Panggil Kemenhub

Kini Tim SAR Gabungan sudah mengumpulkan sebanyak 19 kantong jenazah berisi potongan tubuh para korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Kemudian mengumpulkan 10 kantong bagian kecil pesawat dan 16 kantong potongan bagian besar pesawat Sriwijaya Air beserta pakaian. 


Sementara ituKomisi V DPR RI akan segera memanggil Kementerian Perhubungan terkait peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air. “Kami akan undang dan panggil Kemenhub sebagai pemegang regulasi, otoritas penerbangan dan perusahaan untuk menanyakan peristiwa tersebut,” kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie.

Baca Juga : Tim Pemburu Covid-19 Razia Tempat Hiburan di Hotel, 4 Anggota Polri Ditemukan Berada di Lokasi

Senin (11/1) ini, DPR RI sendiri baru  menggelar Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020-2021, sehingga agenda Rapat Kerja dengan Kemenhub, otoritas penerbangan, dan perusahaan penerbangan akan dilakukan setelah pembukaan masa sidang. Raker tersebut diakui Syarief, sangat urgen untuk segera dilakukan karena banyak berita yang simpang siur terkait musibah jatunya pesawat Sriwijaya Air tersebut. “Ada yang mengatakan pesawat tersebut sudah rusak sejak terbang dari Makassar, diperbaiki lalu terbang lagi ke Jakarta, kemudian ke Pontianak dan akhirnya terjadi kecelakaan," ujar Syarief.


Dikatakannya, Komisi V DPR RI juga ingin mengetahui apakah kecelakaan tersebut berkaitan dengan kesalahan manusia (human error) atau karena masalah mesin pesawat (trouble engine). 
Politisi Fraksi Partai NasDem itu tidak menampik adanya persoalan di internal Sriwijaya, sehingga pengawasan penerbangan tidak maksimal dari maskapai yang misalnya menyebabkan komponen terkait syarat-syarat penerbangan tidak bisa dipenuhi. “Kami tahu di internal Sriwijaya ada persoalan, sehingga pengawasan tidak maksimal dari maskapai. Bahkan dulu beberapa komponen terkait syarat penerbangan di hari-hari tertentu tidak bisa dipenuhi, misalnya jumlah pegawai dikurangi. Itu laporan yang masuk kepada kami sehingga akan kami minta keterangan dari Kemenhub," terang legislator dapil Kalimantan Barat I itu.

Baca Juga : Pelaksanaan Testing di Indonesia Salah Sasaran


Ketua Komisi V DPR RI Lasarus meminta semua pihak untuk menunggu keterangan resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi) terkait penyebab jatuhnya pesawat tersebut. "Kami serahkan sepenuhnya dulu prosesnya kepada KNKT terkait penyebab kecelakaan. Dan Kita tunggu keterangan resmi dari KNKT. Meskipun kami telah berkomunikasi dengan KNKT dan Basarnas, tentu kami tidak ingin mengganggunya. Biarkan mereka bekerja terlebih dahulu mengumpulkan data-data yang diperlukan kan. Sehingga bisa memberikn keterangan yang akurat kepada masyarakat," ujar Lasarus. (ULI/ASP)
 

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal