LampuHijau.co.id - Libur bersama akhir tahun menjadi pro kontra. Pasalnya, seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, libur panjang akan memicu peningkatan kasus positif Covid-19. Namun dari sisi ekonomi, libur panjang berdampak positif terhadap sektor pariwisata, transportasi, industri dan sector sejenis. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Daeng M Faqih bahkan secara tegas meminta pemerintah menghapus kebijakan libur bersama akhir tahun. Tujuannya untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Sebab, salah satu faktor lonjakan kasus positif dalam satu pekan terakhir ini adalah imbas dari libur panjang akhir pekan pada 28 Oktober - 1 November lalu.
"Kasus ini meningkat setelah kita melakukan libur bersama, karena libur bersama itu memicu aktivitas kerumunan kita, sehingga untuk mencegah ke depan terjadi lonjakan yang besar, kami dari Ikatan Dokter Indonesia sangat memohon ke pemerintah untuk mempertimbangkan barangkali kebijakan libur atau cuti bersama ini ditiadakan kalau bisa," kata Daeng, Senin (30/11/2020).
Baca juga : Libur Akhir Tahun Jadi 11 Hari Saja (Ya Tetap Masih Panjang Sih)
Selain itu kondisi makin diperparah dengan semakin kendornya kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan). "Mohon maaf kalau boleh dikatakan masyarakat belum disiplin menghambat penularan ini, karena menghambat penularan ini kan lewat strategi preventif pencegahan melalui 3M, 3M ini tugas kita bersama," tegasnya.
Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai pemangkasan libur akhir tahun tersebut akan berdampak buruk terhadap perekonomian. Utamanya sektor wisata. Padahal saat ini sektor tersebut mulai menggeliat dan ekonomi di daerah tumbuh. Saat libur panjang Maulid Nabi Muhammad akhir Oktober lalu, okupansi hotel naik 40%. Sementara itu beberapa golongan pengusaha juga menolak mentah-mentah penghapusan libur panjang. Sebab libur panjang merupakan satu-satunya momentum untuk menyambung hidup usahanya. Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan okupansi hotel bisa naik tinggi di tengah pandemi hanya pada saat libur panjang saja.
Baca juga : Bisa Beraktivitas Tapi Aman, Pras Setuju Pemerintah Pusat Terapkan New Normal
"Okupansi besar kita itu terjadi saat long weekend atau libur panjang. Kalau sebelum pandemi paling besar itu dari business tourism, masa pandemi ini justru kan okupansi mengandalkan leisure di long weekend. Jadi pada masa long weekend itu jadi harapan ya jadi tambahan sedikit kekuatan untuk kita bertahan," ungkap Maulana, Minggu (29/11/2020).
Dari data yang dihimpun pihaknya selama libur panjang pada bulan Oktober lalu saja okupansi hotel naik rata-rata 40%, paling tinggi ada yang menjadi 57%. Padahal di hari biasa, okupansi hotel rata-rata paling mentok di 30%. "Pada libur Oktober long weekend kemarin itu okupansinya bisa 30-40%, 57% paling maksimal. Sementara di weekdays cuma 20-30%. Nah itu kenaikan tadi yang bisa 20-30%, yang kemungkinan kita nggak bisa dapatkan kalau liburan panjang dipotong," papar Maulana.
Baca juga : Lebaran Tahun Ini Bakal Suram (Pengusaha Tak Jamin Bayar Gaji & THR)
Sedangkan dalam satu pekan terakhir terjadi dua kali rekor penambahan kasus positif Covid harian yakni pada 27 November sebanyak 5.828, dan pada 29 November sebanyak 6.267 orang.
Secara nasional, pandemi Covid-19 sudah menginfeksi 538.883 orang Indonesia, 71.420 orang masih dalam perawatan (kasus aktif), 450.518 orang sudah sembuh, dan 16.945 jiwa meninggal dunia.(LHTJ)