LampuHijau.co.id - Organisasi Purnawirawan Pengawal Kedaulatan Negara (PPKN) menggelar kegiatan ziarah ke Makam Pahlawan di bilangan Kalibata, Jakarata Selatan. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara dalam memperingati tragedi G30SPKI 1965.
Di sana mereka menabur bunga di makam pahlawan revolusi Ahmad Yani. "Kegiatan ziarah ini sebagai pengingat bahwa kita jangan pernah melupakan sejarah kelam. Supaya apa, supaya sejarah buruk kudeta dan pengkhianatan PKI tidak terulang kembali," kata Laksamana Madya (Purn) Suharto, Ketua PPKN, Rabu, 30 September 2020.
Menurut Suharto, kegiatan ziarah ini mampu menumbuhkan semangat juang dan motivasi yang luar biasa kepada seluruh anak bangsa. Kegiatan ini juga sebagai pengingat bahwa sebagai Prajurit sapta marga tidak boleh membiarkan kedaulatan dan ideologi negara diganggu dan dirongrong oleh kelompok politik tertentu.
Baca juga : Bersama Haornas 2020, Menpora: Nyalakan Semangat Olahraga
"Sebagai prajurit dan tentara, hidup dan matinya sudah didedikasikan buat negara. Setiap saat, selagi masih ada nafas di badan, siap bertempur mengenakan helm, sepatu, baju loreng dan senjatanya kembali demi menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran," katanya.
Soeharto mengatakan, momentum peringatan G30SPKI harus menjadi penguat persatuan dan kesatuan bangsa dalam mempertahankan ideologi pancasila.
"Ini perlu di tegaskan, karena sudah secara terang benderang ada upaya sistematis untuk mengganti Pancasila menjadi Eka Sila. Ini sudah sangat keterlaluan. Dimana semua ini di sinyalir, tidak lebih dari kembali bangkitnya gerakan neo komunis," katanya.
Baca juga : MPR Tolak Tuntutan PA 212 Bubarkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
Dalam kesempatan ini, Suharto menegaskan bahwa PPKN mendukung gerakan yang di lakukan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Karena tegas melawan kebangkitan neo komunis, dan membela Pancasila demi keutuhan NKRI.
"Kami berpesan kepada setiap prajurit tentara yang telah di sumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa untuk setia kepada Pancasila dan UUD 1945 harus di wujudkan dalam sikap yang nyata. Tidak ambigu, tidak ragu-ragu yang akhirnya justru tunduk dan masuk dalam perangkap politik kekuasaan sekelompok orang," katanya.
Meski demikian, Suharto menyayangkan dengan tindakan para aparat keamanan dan Dandim yang membatasi masuk kedalam makam Pahlawan. Padahal masih ada ratusan lagi para purnawirawan yang ingin berdoa buat para senior dan pendahulunya.
Baca juga : Pemerintah Diminta Tingkatkan Cadangan Emas untuk Kesejahteraan Masyarakat
"Tetapi sebagai warga negara yang baik, dengan lapang dada kami terima itu semua meskipun sangat mengganggu jiwa ketentaraan kami. Tapi kami sadar, bahwa petugas dan aparat di lapangan hanya menjalankan perintah atasan," tutupnya.
Sebagai informasi, hadir dalam kegiatan PPKN ini adalah mantan kepala staf tiga matra sekaligus mantan KSAL Laksmana Purn Slamet Subianto. Mantan KSAU Marsekal Imam Sufaat dan mantan KSAD serta mantan Panglima TNI Gatot Nurmantio.
Tidak hanya itu, hadir Mantan Danjen Koppasus Mayjend Purn Sunarko, Mayjend Purn Herros, Mayjen Purn Lodewijk Pusung mantan Pangdam I BB dan Assop Panglima TNI. Banyak lagi para pensiunan PATI, Pamen, Pama, Bintara, dan tamtama dari tiga matra. Baik Koppasus TNI AD, marinir TNI AL, dan Kostrad. (DRS)