LampuHijau.co.id - Guru Besar yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Azyumardi Azra, membantah informasi yang terdapat dalam film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Menurutnya, tidak pernah ada kepemimpinan berkonsep khilafah di Indonesia maupun nusantara.
"Jadi, kalau ada orang yang mengatakan bahwa ada jejak khilafah di Indonesia saya sesuai cerita film itu (JKDN), menurut saya itu hanyalah ilusi saja, tidak ada faktanya sama sekali," ujar Azyumardi, Sabtu (26/9/2020).
Menurutnya, tak ada pemerintahan berlatar khilafah sebelum Indonesia berdiri, ataupun setelahnya. Yang ada hanyalah kerajaan atau kesultanan Islam. "Kasih tahu saya yang mana khilafah? Itu tidak ada. Memang mungkin ada yang mengklaim kerajaan atau kesultanan, jadi entitas politik.
Baca juga : Jelajah Nusantara, Alfamart Gowes Berakhir di Tugu Libra Merauke
Politik di kepulauan nusantara itu kerajaan dan kesultanan. Kerajaan dan kesultanan itu bukan khilafah. Itu adalah entitas politik yang istilah modernnya adalah monarki, turun-temurun, jadi ya enggak ada khilafah," jelasnya.
Kerajaan atau Kesultanan Demak menurutnya juga bukanlah khilafah. Apalagi disebut sebagai bagian dari Utsmani Turki, yang juga diklaim sebagai pemerintahan khilafah, pada film.
"Dinasti Utsmani disebut khilafah itu juga salah, menyebut Utsmani sebagai khilafah adalah keliru. Karena Utsmani itu resminya adalah kesultanan atau dinasti, enggak ada itu khilafah," jelasnya.
Baca juga : Beredar Video Ridwan Saidi Minta Anies Pilih Juaini Jadi Sekda
Lebih lanjut, Azyumardi menilai para pendukung khilafah khususnya yang ada di Indonesia, tak paham mengenai ideologi tersebut. Terutama dalam aspek fakta sejarahnya. Selain tak paham sejarah, konsep khilafah di Indonesia juga dimanipulasi dan diromantisasi, untuk dijadikan sebuah ideologi sehingga akhirnya disebarluaskan. Hal ini telah ia buktikan sendiri.
Azyumardi mengaku kerap berdebat dengan kelompok pengusung pemahaman khilafah, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). "Misalnya saya dulu sering berdebat dengan anggota atau pimpinan HTI, 'Anda bicara khilafah, Anda sudah baca buku mengenai khilafah siapa saja? Anda sudah baca belum buku khilafah yang ditulis Jamaludin Al Afgani misalnya, sudah baca belum? Pernah dengar nggak? Kalau belum dan tidak tahu, jangan ajak berdebat," tuturnya.
"Harus jujur mengakui sejarah, jangan diromantisasikan, jangan dibikin-bikin. Memang sejak pertama di Indonesia, gagasan khilafah tidak mendapatkan tempat," imbuh Azyumardi. (YUD)