Ide Wakapolri Rekrut Preman untuk Awasi Warga Dianggap Sangat Berbahaya

Senin, 14 September 2020, 18:14 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mendapat kritikan terkait rencana merekrut preman pasar untuk membantu aparat keamanan mengawasi warga dalam menjalankan protokol kesehatan, di masa pandemi COVID-19. Salah satunya dari Miftahuddin, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) DKI Jakarta langsung memprotes rencana tersebut.

Dia menilai, kepolisian tidak perlu sampai melibatkan preman pasar dalam mengawasi aktivitas warga, terutama di pasar. Pedagang pasar memang rentan tertular Corona.

“Saya kira Bapak Wakapolri tidak perlu sampai sejauh itu melibatkan preman pasar untuk mengawasi aktivitas warga, terutama di pasar-pasar. Jauh lebih efektif kita pengawasan itu dilakukan oleh paguyuban atau ketua-ketua blok pasar. Keterlibatan pedagang justru memperkuat disiplin pedagang," kata Miftahuddin.

Sementara Ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel juga memberikan pandangannya terkait wacana Wakapolri tersebut. Reza menilai jika wacana tersebut benar-benar diterapkan akan timbul masalah. "Gagasan yang terlalu berisiko jika direalisasikan," katanya seperti dilansir Tribunnews, Minggu (13/9/2020).

Berita Terkait : Rencana Wakapolri Rekrut Preman Ditolak Para Pedagang

Menurut Reza, selama ini preman sudah mendapatkan label dari publik sebagai pelaku vigilantisme tidak mungkin berubah tabiat dan perilaku dalam waktu singkat.

“Kita juga berharap penegak disiplin internal di klaster pasar, di situ kan ada jeger-jegernya di pasar, kita jadikan penegak disiplin," kata Gatot di Mako Polda Metro Jaya, Kamis (10/9/2020) lalu dilansir dari Antara.

Menurut Miftahuddin, saat ini saja para pedagang pasar DKI Jakarta mengalami penurunan omzet 60-70 persen akibat PSBB. Setidaknya, pihaknya menemukan ada kurang lebih sekitar 400.000 pedagang pasar tradisional dan pedagang kaki lima di sekitar pasar yang mengalami dampak dari wabah pandemi tersebut yakni penurunan omzet.

Ia menjelaskan, pedagang tengah bangkit kembali, namun tidak lazim saat para pedagang mencari nafkah justru ada preman pasar mengawasi penerapan protokol kesehatan. “Tidak bisa kita memungkiri omzet para pedagang memang turun drastis, mereka mencari nafkah untuk keluarga di rumah, tetapi kok malah diawasi preman? Jelas para pedagang pasar akan merasa terintimidasi dengan kehadiran para preman pasar mengawasi aktivitas mereka," katanya.

Berita Terkait : Ketua MPR Bereaksi Masalah Preman Diberdayakan Polisi

IKAPPI DKI Jakarta mendorong agar pemerintah atau aparat keamanan menyiapkan langkah-langkah yang konkret dan diharapkan oleh para pedagang, agar para pedagang merasa terlindungi dan terayomi dengan baik.

Sementara Pakar Hukum Pidana, Dr. Azmi Syahputra, SH, MH (Dosen Sosiologi Hukum dan Kriminologi ) Pernyataan Wakapolri Dipahami Sebagai Ajakan Agar Semua Elemen Bisa Patuh Pada Protokol Kesehatan. Pernyataan Wakapolri soal pemberdayaan jeger di pasar agar pedagang dan pengunjung pasar taat patuh kepada Protokol Kesehatan Covid-19, harus dipahami bahwa dalam setiap komunitas selalu ada tokoh-tokoh yang dipandang dan menjadi panutan.

Menjadikan tokoh yang dipandang dalam komunitas menjadikan perintah menjadi lebih efektif. Bahkan, seringkali tanpa harus memberikan ancaman atau sanksi jika tokoh terpandang dikomunitasnya melakukan suatu tindakan, akan langsung dicontoh oleh anggota komunitas.

Dalam sosiologi, ini dapat terjadi karena ada relasi patron and client, relasi saling tergantung. Atau dalam pendekatan lain, karena rasa in group dan out group, kalau tidak mengikuti tokoh seperti bukan dari bagian grup.

Berita Terkait : Petrus Salestinus Kecam Rencana Wakapolri Berdayakan Preman untuk Pengawasan Covid-19

Jadi, pernyataan Wakapolri dipahami sebagai ajakan agar semua elemen bisa patuh pada protokol kesehatan, kalau tidak patuh maka minta bantuan kepada tokoh setempat atau tokoh komunitas. Kalau di pasar ada jeger, di komunitas lain ada tokoh yang lain. Jadi, bukan preman, tetapi siapa saja yang berpengaruh di lingkungkungannya agar anjuran ajakan mematuhi protokol Covid-19 menjadi lebih efektif.

Ya, jadi bukan soal preman tetapi kepada seluruh tokoh komunitas apa saja, ayo kita patuhi protokol kesehatan, karena ancaman Covid-19 itu nyata. (DIR)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal