Sebelum Terlambat, Sebaiknya Anies Batalkan Reklamasi Ancol

Minggu, 12 Juli 2020, 15:16 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Rencana pembangunan meseum sejarah nabi dan masjid apung di kawasan Ancol, Jakarta Utara sebaiknya jangan dijadikan tameng untuk pembenaran reklamasi.

Demikian diungkapkan Ridho Widodo, aktivis Jakarta Utara yang juga sekjen barisan Betawi maju (BBM) Jakarta Utara menanggapi rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan memperluas kawasan Ancol tersebut.

Ridho mengungkapkan Ancol dari zaman dahulu kala di bangun ir. Ciputra untuk wisata pantai, dan setelahnya itu di tingkatkan dengan adanya wahana dunia fantasi (dufan) dan wahana-wahana lainnya.

"Merubah paradigma dari wisata keluarga ke wisata religi, harus diperhitungkan matang-matang dan harus melalui kajian yang cermat. Apakah tidak kontradiktif misalnya, acara perayaan malam tahun baru di Ancol diisi dengan gema takbir dan zikir di Masjid Apung, sementara di pantai karnaval berlangsung acara musik dugem dengan menampilkan DJ atau musik-musik yang lainnya,"ujarnya saat berbincang dengan wartawan, Minggu (12/7).

Baca juga : Sambil Sepedaan, Walikota Arief Cek Jalan Rusak dan Beberapa Fasilitas Publik

Ridho yang juga Pengurus forum lintas parpol se Jakarta Utara mempertanyakan mengapa Anies tidak membangun masjid apung di Marunda misalnya. Atau membangun meseum sejarah nabi di deket Masjid Luar Batang, yang sudah terkenal di seluruh dunia sebagai destinasi wisata religi.

"Belum lagi persoalan yang akan timbul nantinya, akan diisi apa meseum sejarah nabi itu? Sedangkan Rasululloh tidak boleh di reka-reka bahkan di visualkan. Apakah mau diisi dengan koleksi rambut, pedang, atau perkakas yang dipakai Rasululloh? Sedangkan di negara Arab saja masih terjadi perdebatan tentang keaslian barang-barang tersebut," bebernya.

Menurut Ridho sebelum terjadi polemik besar, dirinya meminta Anies tidak perlu malu untuk membatalkan itu semua.

"Dan ingat Anies sudah pernah ngotot dengan pendapat pribadinya walaupun sudah ditentang dan diingatkan para pakar dan bahkan Presiden, yaitu balap E formula di Monas. Apa hasilnya? Kita sama-sama tahu bersama, Monas digunduli, balap formula gagal,"ujarnya lagi.

Baca juga : Sehat Di Tengah Pandemi, Ancol Tawarkan Olahraga Di Pantai Ancol

Seperti diketahui, Gubernur Anies Baswedan memberikan penjelasan soal Museum Sejarah Nabi di Ancol yang akan dibangun di atas lahan reklamasi Ancol.

Pembangunan museum ini juga menuai pro dan kontra. Ia mengklaim museum tersebut akan menjadi museum sejarah nabi yang terbesar di luar Saudi Arabia.

"Museum ini akan menjadi museum terbesar tentang sejarah nabi di luar Saudi Arabia," ujar Anies dalam akun Youtube Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (11/7).

Dia mengatakan Museum Sejarah Nabi akan menggunakan lahan seluas 3 hektare dari ratusan hektare yang sudah disiapkan. Museum itu akan dibangun di tepi pantai dari kawasan wisata Ancol.

Baca juga : Sebelum Kembali ke Ponpes, Santri Asal Cirebon Akan Jalani Tes Swab

Anies pun menjawab kritik publik yang mempertanyakan mengapa museum itu harus dibangun di kawasan perluasan Ancol. "Ya kawasan ini memang dirancang untuk berkembang sebagai pusat kegiatan wisata, bukan saja bagi Indonesia, tapi harapannya bagi Asia Tenggara, bahkan Asia," tuturnya.

Anies menyatakan Ancol yang saat ini luasnya sekitar 200 hektare, setiap tahun ada lebih dari 20 juta pengunjung. Menurutnya, manfaat ekonomi bagi Jakarta sangat dirasakan betul dari tempat wisata ini.

"Jadi lahan sekarang terbentuk akan dimanfaatkan untuk pembangunan, dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Dan bukan cuma untuk Museum Sejarah Nabi, tapi ini menjadi kawasan pantai terbuka untuk masyarakat dan kita ingin kawasan Ancol ini menjadi yang terbesar dan yang terbaik sebagai kawasan liburan di Asia," tukas Anies. (DRI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal