Industri Kesehatan Dicap Mengeruk Keuntungan

Biaya Rapid Test Lebih Mahal Daripada Tiket Pesawat

Sabtu, 27 Juni 2020, 14:50 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Masyarakat Indonesia sekarang ini makin kelimpungan untuk mencari pundi-pundi, guna bisa bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Apalagi saat ini, hampir seluruh perusahaan mewajibkan para karyawan lama dan baru yang ingin bekerja harus melakukan Rapid Test Covid-19 terlebih dahulu. Hal itu yang kini membuat masyarakat pusing, lantaran biaya Rapid Test sangat mahal. Menanggapi hal tersebut, mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 Fahri Hamzah mengamini keluhan masyarakat Indonesia.

Bahkan kata Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini, biaya Rapid Test Covid-19 lebih mahal dari harga tiket pesawat Jakarta-NTB (Nusa Tenggara Barat). "Saya baru tahu rupanya harga tiket pesawat Jakarta-Lombok kemarin jauh lebih murah dari biaya pemeriksaan kesehatan (Covid-19) akibat melintas 3 pulau Jawa-Lombok-Sumbawa," kata Fahri, Kamis (25/6/2020)

Sayangnya, bekas Politikus PKS itu enggan menyebutkan nominal biaya Rapid Test Covid-19. Menurut Fahri, industri tes dadakan itu secara jelas mengeruk keuntungan besar. "Melampaui industri perjalanan yang sedang jatuh. Saya sedih karena ternyata bayarnya cukup mahal kalau ditotal. Ini membebani rakyat. Bagi ekonomi berat!" ungkap Fahri.

Baca juga : Tarif Batas Atas Udah Turun, Menhub Terus Evaluasi Harga Tiket Pesawat

Lebih lanjut kata Fahri, melakukan Rapid Test Covid-19 itu pada dasarnya dilakukan bukan karena dibutuhkan secara administratif. Tetapi karena orang merasa tidak aman dengan dirinya. Di sisi lain, Fahri Hamzah menilai penerapan New Normal di tengah pandemi sama halnya beradu lari dengan corona. Ia pun bertanya-tanya di mana corona disembunyikan. "Mereka mengunci corona di mana? Atau corona mengunci kita? Belum jelas, sepertinya adu napas. Corona mati duluan atau kita gila duluan?" tegas Fahri.

Pada akhirnya, kata Fahri, tak ada lagi pilihan bagi masyarakat selain memberanikan diri melawan corona. "Ada pilihan lain, kita mulai lagi keberanian.. #NewNormal," tandas Fahri. Kekecewaan itu juga dilontarkan oleh Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. Politisi PKB ini berharap agar Gugus Tugas Covid-19, Kementerian Kesehatan, dan lembaga yang terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 memperhatikan masalah ini. “Masyarakat sekarang berada dalam kondisi susah sehingga jangan dibebani lagi dengan biaya-biaya yang lain,” ujar Jazilul di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2020).

Anak buah Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) ini merasa heran, sebelumnya memang pemerintah memberi bantuan kepada masyarakat berupa sembako guna menghadapi masa PSBB. Namun dalam masalah Rapid Test Covid-19, masyarakat saat ini justru dikenai biaya. “Kemarin diberi sembako tetapi sekarang disuruh membayar rapid test. ya itu namanya sama saja, tidak ada yang dibantu,” ketus Jazilul.

Baca juga : Ombudsman DKI: Kebijakan Dinas Pendidikan Secara Umum Telah Sesuai Dengan Permendikbud

Oleh sebab itu, dirinya meminta agar pemerintah menghitung kembali skema Rapid Test Covid-19 kepada masyarakat. “Seharusnya disediakan dengan cara yang murah. Saya dengar produk dalam negeri sudah ditemukan. Mestinya kan murah itu,” pinta Jazilul.

Lebih lanjut, Jazilul mengaku saat ini memang perlu terus dilakukan sosialisasi dalam kegiatan rapid test. Petugas yang berada di lapangan diharap mengetahui mana orang yang mampu atau tidak membayar rapid test. “Bila tidak mampu ada qualifikasinya. Intinya jangan lagi masyarakat yang sudah susah jangan ditambah bebannya. Caranya ya beri subsidi bagi masyarakat kecil. Atau Misalnya rapid test digelar di Puskesmas, maka Puskesmas itu mendapat subsidi,” tandas Jazilul.

Dikonfirmasi terpisah, salah satu masyarakat rantau dari NTT (Nusa Tenggara Timur), Kabupaten Sikka, Maumere Flores, Domi Dese Lewuk mengaku mengeluhkan mahalnya biaya Rapid Test Covid-19. "Saya rasa demikian bang. Ponakan saya di Sorong pada bulan Agustus nanti mereka harus pulang ke Flores, Maumere untuk acara adat orang tuanya meninggal 3 tahun lalu. yang akan pulang ada 16 orang. Kakak perempuan beserta anak dan beberapa cucunya. Dua hari lalu saya ditelepon, dan ditanya sebenarnya berapa sih besaran biaya Covid test?," cerita Domi.

Baca juga : Selama Pandemi Covid-19 Penyalahgunaan Ganja & Sabu  di Jakarta Naik 60 Persen

Kata Domi melanjutkan ceritanya, harga Rapid Test Covid-19 bisa mencapai jutaan. "Di Sorong, sampai Rp 900.000 (sembilan ratus ribu rupiah). Jika lewat Makassar, maka harus bayar lagi jadi biaya Covid test ini sekiyar Rp 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah) per-orang. Coba saja dikalikan dengan sanak keluarga saya ada 16 orang orang pak?," keluh Domi.

Oleh sebab itu, Domi meminta kepada pemerintah agar tak lagi menambah beban hidup rakyatnya yang saat ini sudah susah. "Kita harapkan pemerintah paham akan kondisi masyarakat saat ini," tandas Domi. (DED)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal