Hiburan Malam Beroperasi?

Disparekraf Jakarta Disinyalir Diskriminatif Tegakkan Pergub

Ilustrasi JPNN
Kamis, 25 Juni 2020, 18:57 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta dinilai diskriminatif dalam penegakkan Peraturan Gubernur No 41 tahun 2020 terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pasalnya, sejumlah tempat hiburan malam dibiarkan beroperasi dengan mengundang kerumunan tanpa adanya protokol kesehatan. "Kasus Covid-19 di Jakarta Pusat ini jadi tertinggi, bahkan tertinggi di Indonesia.

Salah satunya karena banyaknya relaksasi tempat hiburan malam dan tempat-tempat kongkow itu. Ini juga menjadi trigger penularan Covid-19 itu, termasuk tempat hiburan di wilayah lain seperti di Jakarta Selatan, itu banyak," ujar Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, di Jakarta, Kamis (25/6).

Berita Terkait : Ribuan ASN Di Jakarta Utara Membacakan Ikrar Pemilu

Menurutnya, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar tetap harus berorientasi pada horizontal scaning karena akar persoalannya adalah menekan penyebaran virus. Untuk itu, setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif harus turut membantu memutus penyebaran virus.

"Ini kan perlakuan diskriminatif, masyarakat bawah harus taat protokol kesehatan tapi kelas menengah dibiarkan berkerumun di klub malam. Itu dikhawatirkan ada invisible hand yang membackup itu, orang-orang punya kekuatan membackup mereka sehingga tempat hiburan malam tetap beroperasi sehingga karyawan dan pengunjung jadi korban," katanya.

Diketahui, tempat hiburan malam baru bisa dioperasikan pada fase terakhir PSBB. Namun, dengan dalih izin restoran, tempat itu bisa beroperasi lengkap dengan pemutaran musik yang mengundang kerumunan.

Baca Juga : Pasien Covid-19 Bertambah, Kota Malang Kembali Menjadi Zona Merah

Dari penelusuran pada Rabu (23/6/2020) malam, di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan, sebuah tempat bernama Hollywings menunjukan hal tersebut meski tampak dari luar protokol-protokol selama PSBB dijalankan. Sekira pukul 22.15 WIB, nampak mobil memadati lahan parkir di halaman dan lantai pertama bangunan yang merupakan bar dan restoran tersebut.

Begitu memasuki ruangan yang tampak remang itu, suara musik khas "club house" terdengar kencang di dalam ruangan luas yang terisi oleh puluhan meja yang kemungkinan total bisa menampung ratusan pengunjung tersebut. Di sana ada kursi yang dilengkapi selotip membentuk tanda "X" yang berarti tidak untuk diduduki dengan letak setelah kursi tanpa tanda "X" dengan maksud membatasi pengunjung hingga 50 persen.

Namun, malam itu, seluruh meja dengan kapasitas antara dua hingga enam orang nampak terisi maksimal dengan tanpa ada jarak antara satu pengunjung dengan lainnya dan sebagian besar tanpa masker, yang menunjukan tidak adanya pembatasan jarak ataupun pembatasan pengunjung 50 persen seperti arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam Pergub 51 tahun 2020 tentang PSBB Transisi. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal