Memalukan dan Memprihatikan, Tom Pasaribu: Pembagian Beras Berbau dan Berkutu Akibat Keteledoran Bupati Tapteng

Selasa, 12 Mei 2020, 22:11 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Berbagai pihak sangat menyayangkan dan prihatin terhadap peristiwa memalukan di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Dalam peristiwa itu, puluhan kepala keluarga mendapatkan beras berkutu dan bau. Beras itu dibagikan Pemkab Tapteng melalui kepala desa dalam rangka membantu warga akibat pendemi Covid-19.

"Ini terjadi tak terlepas dari keteledoran Bupati Tapteng yang tidak mencek beras itu sebelum diberikan kepada warga," kata Ketua Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu kepada lampuhijau.co.id di Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Baca juga : Pertama Terapkan Protokol Kesehatan, Apartemen Taman Rasuna Tetap Ikuti Aturan PSBB

Kasus ini, kata Pasaribu, bukti kecil tentang kurang pedulinya Bupati Tapteng dan aparatnya dalam melayani warganya dengan ikhlas. "Kasus beras berkutu dan berbau itu tidak perlu terjadi bila Bupati Tapteng dan aparatnya turun ke lapangan untuk mengecek langsung. Ini tidak, hanya titip kepada kepala desa, makanya terjadi demikian. Ini sangat memalukan," ujar Pasaribu.

Seperti diketahui sebelumnya, Sebanyak 25 orang ibu rumah tangga di Desa Siantar CA, Kecamatan Sosorgadong, Tapanuli Tengah memperlihatkan beras berbau dan berkutu bantuan Covid-19. Bantuan ini disalurkan Pemkab Tapteng melalui kepala desa.

Para ibu yang ditemui wartawan di sebuah warung di Dusun 1, Selasa (12/5/2020), datang membawa goni masing-masing berisikan beras bantuan, ada yang hanya tinggal setengah, seperempat, dan ada yang masih penuh. Terlihat beras tersebut menguning dan berkutu yang dimasukkan dalam goni bertuliskan Beras C4 Super, ukuran 10 kilogram tetapi isi 5 kilogram. Goni dijahit sedemikian rupa.

Baca juga : Presiden Ajak Masyarakat Berzakat ke BAZNAS

Banyak argumen yang terdengar dari warga terkait bantuan beras tersebut. Kadang terdengar lucu, karena berasnya juga tinggal sedikit. Ketika ditanya, para ibu itu mengatakan terpaksa memasaknya karena ketiadaan beras.

Kepala Desa Arisman Tarihoran mengatakan, bantuan tersebut dari pemerintah kabupaten. Tetapi sebutnya sudah ada diganti sebanyak 123 goni. "Kita juga sebelumnya sudah mendata keluarga yang menerima bantuan beras yang akan dikembalikan. Tetapi hanya 123 keluarga yang melapor, selainnya tidak ada. Kita juga heran, kenapa jadi sekarang mengeluh lagi?" tanya Arisman.

Arisman mengungkapkan, dari 637 kepala keluarga di Desa Siantar CA, sebanyak 395 kepala keluarga dapat bantuan. Dan dari 395 sudah diganti 123 goni beras yang tidak layak konsumsi.

Baca juga : PWI Jaya Kembali Bagikan Masker untuk Para Wartawan dan Masyarakat Umum

Memang, diakui Arisman, saat pengiriman dan pembongkaran beras turun hujan deras yang mungkin mengakibatkan beras berbau dan berkutu. Tetapi, ucapnya, sudah didata siapa yang akan mengembalikan beras untuk diganti sehingga diperoleh hanya 123 orang.

"Sebanyak 123 kepala keluarga yang melapor sudah diganti berasnya," kata Arisman.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Bupati Tapteng Bakhtiar Sibarani via WhatsApp, yang bersangkutan tidak merespons. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal