Sibuk Urusi Covid-19, ACT Tetap Tak Lupakan Rohingya

Ratusan iftar disediakan ACT untuk menu berbuka puasa sejumlah pengungsi di Coxs Bazar, Bangladesh. (Foto: ACT).
Selasa, 5 Mei 2020, 19:33 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) kini tengah sibuk dengan sejumlah aksi penanggulangan wabah Covid-19. Tak hanya di wilayah Jabodetabek, setiap cabangnya di daerah juga bergerak.

Tak sekadar mitigasi berupa penyemprotan disinfektan, pembagian masker dan hand sanitizer. Sebab, ACT juga merespons dampak pandemi Corona dari sisi ekonomi berupa peluncuran sejumlah program seperti Operasi Makan Gratis, Operasi Beras Gratis, juga Humanity Careline.

Baca juga : Untuk Memutus Rantai Covid-19, Disnaker Kota Tangerang Sidak Sektor Industri

Meski tengah disibukkan di Tanah Air, lembaga yang sudah berkecimpung selama 15 tahun di bidang kebencanaan dan krisis kemanusiaan ini juga tak melupakan aksi-aksi yang sudah dilakukan sebelumnya. Terutamanya bantuan ke wilayah krisis kemanusiaan di luar negeri. Salah satunya kepada para pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh.

Para pengungsi yang terusir dari tanah kelahirannya di Myanmar ini, memang hanya mengandalkan bantuan untuk hidup sehari-hari. Pada Ramadan kali ini pun, ACT terus berikhtiar mendistribusikan bantuan pangan berupa iftar yang disajikan waktu berbuka puasa.

Baca juga : Efek Covid-19, Koki Nekat Maling Sembako

Demikian pula yang tampak di Kamp Balukhali dan Kamp Kutupalong, Cox’s Bazar, ratusan pengungsi siap menyantap makanan yang disediakan ACT, bantuan dari masyarakat Indonesia. Dalam pelaksanaanya, para pengungsi juga menerapkan protokol kesehatan atas pandemi Corona dengan menjaga jarak.

Dikutip dari news.act.id pada Selasa (5/5/2020), iftar bersama pengungsi Rohingya telah berlangsung selama lima hari yang terus berlanjut hingga akhir Mei nanti. "Para penerima manfaat dari anak-anak hingga orang dewasa. Dalam sehari, sebanyak 220 orang dari Kamp Kutupalong dan 110 orang dari Kamp Balukhali yang menerima bantuan iftar ini," terang Firdaus Guritno dari Global Humanity Response (GHR)-ACT.

Baca juga : Ani: 292 Pasien Covid-19 Dinyatakan Sembuh

Sejak konflik besar di Myanmar pada 2017, warga Rohingya mengungsi dan menjalani Ramadan di Kamp pengungsian Cox’s Bazar, yang saat ini menjadi rumah bagi jutaan pengungsi Rohingya. Ini merupakan Ramadan ketiga bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh. Mereka masih bertahan dalam keterbatasan, ditambah saat ini mewabahnya Covid-19.

Dikutip dari RFI.com, pemerintah Bangladesh telah melakukan karantina total untuk wilayah kamp-kamp pengungsian warga Rohingya. Hanya pasokan makanan darurat dan layanan medis yang dapat beroperasi di kamp-kamp pengungsian. (YUD)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal