LampuHijau.co.id - Wabah virus corona menjadi perhatian penting dunia, bahkan korban tewas sudah melebihi angka seribu jiwa. Selain itu, sebaran virus dengan ciri khas 'mahkota' itu menjangkau hingga seluruh dunia.
Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun merespons wabah yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, Cina ini. Lembaga kemanusiaan andalan Indonesia ini pada Kamis (13/2/2020), dilaporkan turut sibuk berupaya melakukan pencegahan.
Baca juga : Bantu Cegah Penyebaran Corona, ACT Bagi-bagi Masker di Bandara Soetta
Aksi kepeduliannya berupa pengiriman masker ke sejumlah negara tempat para tenaga kerja Indonesia berada. Pendistribusian masker tahap pertama dikirimkan ke negara Singapura, Hongkong, dan Taiwan apada Minggu (9/2/2020) kemarin. Bantuan ini sebagai upaya ACT mengantisipasi sebaran virus baru corona (Covid-19) di negara-negara yang berisiko tinggi.
Sebanyak 1.610 kotak masker dengan rincian 1.210 kotak ke Hong Kong, 300 kotak ke Taiwan, dan 100 kotak ke Singapura dikirimkan. Dikutip dari news.act.id, sejak Kamis pekan lalu, ACT terus mengupayakan pencarian stok masker untuk Warga Negara Indonesia maupun masyarakat umum di Hong Kong, Macau, Singapura, dan Taiwan.
Baca juga : Penerimaan CPNS, Bupati Cirebon Imbau Masyarakat Berdoa dan Belajar
"Alhamdulillah, Ahad malam sudah kami kirim sebagai tahap pertama ke Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. InsyaAllah, upaya pencarian stok untuk pengiriman selanjutnya masih terus kami lakukan agar bisa melayani lebih banyak lagi saudara-saudara kita,” ungkap Sucita Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR)-ACT.
Ia menerangkan, jumlah yang dikirimkan kemarin baru mencapai 65 persen dari total yang ditargetkan pihaknya, yakni 2.500 masker. Pasalnya, imbuh Sucita, harga masker yang naik dua kali lipat dalam hitungan jam. Apalagi, hampir semua penjual memakai sistem lelang dalam penjualan masker tersebut.
Baca juga : Revitalisasi KPK Menjaga Wibawa Negara
"Jadi, bukan siapa yang pertama datang jadi pertama yang dilayani, melainkan siapa yang bisa bayar paling mahal itu yang diutamakan. Tidak peduli untuk dijual lagi atau untuk bantuan kemanusiaan,” jelas Sucita.
Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, 45.171 kasus COVID-19 per 12 Februari terdata secara global dengan 1.114 kematian di Cina. Kasus tertinggi masih terdata di Provinsi Hubei, wilayah awal virus terdeteksi. Hingga Rabu (12/2) lalu, 33.366 kasus terkonfirmasi, 11.295 dugaan kasus, dan kematian lebih dari seribu orang. Selain di Cina, kasus Corona juga dilaporkan di 24 negara lainnya. (YUD)