LampuHijau.co.id - Dunia kesehatan tengah diguncang virus mematikan bernama 2019 Novel Corona atau 2019 nCoV. Hingga Minggu (2/2/2020) petang, dilaporkan korban tewas sudah mencapai 305 orang yang satu di antaranya terjadi di Filipina, sekaligus kejadian pertama yang dilaporkan di luar China.
Virus ini sendiri awalnya ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir Desember 2019. Dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (30/1) lalu, menyatakan bahwa wabah virus corona China sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Sementara, jumlah kasus virus ini kian bertambah yang mencapai 14.300 kasus per Minggu (2/2). Ruang lingkup penyebaran virusi mirip SARS dan MERS yang sama-sama menyerang pernafasan ini pun makin meluas, hingga mencapai 25 negara. Sejumlah negara di dunia melakukan tindakan preventif sebagai upaya pencegahan dini.
Baca juga : ASN Wajib Pindah ke Ibu Kota Baru, Bagaimana Nasib Anak Istri di Jakarta?
Demikian pula dengan Indonesia, yang pada Minggu (2/2) kemarin, melakukan karantina terhadap 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan menuju Natuna, guna diobservasi lebih lanjut dan dikarantina selama dua pekan.
Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap pun menggelar aksi solidaritas sebagai langkah pencegahan virus ini. Respons ACT, seperti dikutip news.act.id pada Sabtu (1/2), dengan membagikan masker di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Jumat (31/1/2020). Selain membagikan 2 ribu masker, ACT juga membagikan Air Minum Wakaf serta edukasi kepada pengunjung bandara.
"Aksi ini berlangsung dua hari. Kita sudah mendapatkan izin hingga Sabtu (1/2) dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Dari terminal ini masyarakat akan masuk lebih banyak dari luar negeri, baik yang umroh maupun yang berlibur," kata Kepala Program ACT Regional Jakarta Anca Ardiansyah.
Baca juga : Sidang Pencaplokan Tanah, Saksi Banyak Nggak Tahunya
Sementara dijelaskan Dokter Rizal Alimin dari Tim Medis ACT, virus corona setipe dengan SARS dan MERS yang menyerang pernafasan yakni paru-paru, juga menimbulkan kematian.
"Jadi, gejala yang ditimbulkan ketiga virus ini sama, yaitu diawali oleh adanya panas (demam), batuk kering, terus timbul sesak, pada kondisi berat bisa menyebabkan pneumonia, dan ini bisa menyebabkan kematian," terangnya, seperti dikutip news.act.id, kemarin.
Terkait penyebarannya yang berasal dari hewan kelelawar, dr. Muhammad Ridha, juga dari Tim Medis ACT, kurang meyakini orang yang menderita virus corona akibat mengonsumsi daging hewan. Pasalnya, ia beralasan, penyeberan virus mematikan ini melalui udara.
Baca juga : Miliki Segudang Prestasi, Kombes Arie Ardian Layak Jadi Kapolres Bandara Soetta
"Kalau penularannya dari makanan, kemungkinannya kecil. Karena virus ini penularannya atau transmisinya melalui percikan batuk atau percikan bersin. Mekanismenya masih tanda tanya besar. Tapi kemungkinan, bisa juga hewannya batuk dan flu juga, lalu ditangkap oleh tubuh manusia dan dari manusia ke manusia lainnya.
Jadi, ada dua moda transmisi penyebaran virus ini. Pertama, dari hewan ke manusia. Kedua, dari manusia ke manusia," paparnya. (YUD)