Lestarikan Budaya Betawi, Politisi Golkar Ngantor Pakai Baju Jawara Betawi

Selasa, 7 Januari 2020, 13:55 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Ada yang beda dari anggota DPRD DKI Jakarta, Jamaludin. Politisi nyentrik dari Partai Golkar yang sehari-hari ngantor di Kebon Sirih menggunakan kemeja formal, kali ini tampil mengenakan baju jawara betawi. Nah Lho!

Saat ditemui wartawan, anggota komisi A (bidang pemerintahan) DPRD DKI ini mengaku, apa yang dilakukannya semata-mata untuk melestarikan salah satu adat budaya leluhur betawi. “Baju Pangsi merupakan pakaian jawara-jawara Betawi sejak dahulu kala. Para Jawara Betawi yang dimaksud adalah sosok yang dalam keilmuannya, baik ilmu agama maupun ilmu bela diri atau yang kita kenal dengan istilah silat Betawi,” ujar Jamal kepada wartawan, Selasa (7/1/2020).

Berita Terkait : Muhayar Ajak Anak Muda Kolaborasi Bangun Jakarta

Sebagai putera asli Betawi, Jamal menjelaskan, warna baju pangsi bermacam-macam. Ada hitam, merah, hijau, krem dan coklat tua. Dilengkapi dengan asesoris sabuk besar, selendang kain, batu cincin dan sebilah golok dengan alas kaki sandal terompa.

“Pemakaian pangsi ini bermaksud untuk melestarikan salah satu adat budaya leluhur Betawi,” bebernya.

Berita Terkait : Herman Sebut Raihan Kursi Dapil Jawa Barat VIII Cukup Baik

Politisi asal Rawa Bambon, Ciracas Jakarta Timur ini mengharapkan, agar apa yang dilakukannya dapat menginspirasi anggota dewan lainnya sebagai bentuk melestarikan kebudayaan asli Betawi.

"Ane berharap, Jakarta sebagai Ibu Kota dan kota metropolitan tetap menjaga kelestarian budaya orang Betawi sebagai penduduk inti Ibu Kota. Dan anggota DPRD dapat mempeloporinya.

Berita Terkait : Lahir pada Senin Wage, Rezeki Politisi Ini Ngalir Terus

Selama ini kan anggota DPRD menggenakan baju Betawi ujung serong kalo pas rapat paripurna istimewa HUT Jakarta. Bukan tidak mungkin, kita usulkan agar baju pangsi dikenakan di salah satu hari kerja. Lagi pula mengenakan baju khas Betawi ini kan juga amanat perda nomor 4 Tahun 2015 tentang pelestarian kebudayaan Betawi," ujarnya dengan gaya ceplas-ceplos.

Berdasarkan buku Folklor Betawi yang dikarang oleh Abdul Chaer, busana pangsi memiliki ciri, leher baju yang bundar dan dibuat dengan lengan panjang. “Celananya dari dengkul ke mata kaki. Atau orang Betawi biasa bilang, ke atas takut hujan, ke bawah takut cacing,” ungkap Abdul Chaer yang juga seorang ahli Bahasa Indonesia ini. (Dri)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal