LampuHijau.co.id - Kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dalam laporan English Proficiency Index (EPI) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan skor 471 dan masuk kategori Low Proficiency atau kecakapan rendah. Di kawasan Asia, Indonesia hanya menempati posisi ke-12 dan tertinggal cukup jauh dari negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
Di tengah kondisi tersebut, muncul secercah harapan dari dunia pendidikan. Putri Alya Sidik, siswi Delima School Jakarta yang baru berusia sembilan tahun, berhasil menulis dan menerbitkan tiga buku berbahasa Inggris yang tergabung dalam serial Diary of Alya. Ketiga buku tersebut berjudul My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.
Menurut Wahyu Kusnadi, guru Bahasa Inggris sekaligus editor ketiga buku Alya, rendahnya kemampuan bahasa Inggris siswa Indonesia, khususnya di tingkat sekolah dasar, tidak lepas dari kebijakan kurikulum yang selama bertahun-tahun tidak menempatkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib.
Baca juga : OKK PWI Jaya Angkatan 23 Sukses Digelar, Ujian Tertulis Tulis Tangan Jadi Terobosan Baru
"Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan pelajaran bahasa Inggris di tingkat SD. Pada Kurikulum 2013, status bahasa Inggris diturunkan menjadi mata pelajaran pilihan sehingga banyak sekolah menghapusnya karena keterbatasan tenaga pengajar," ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, dalam Kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris mulai diarahkan menjadi mata pelajaran wajib dan ditargetkan diterapkan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Namun, masa transisi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan.
"Salah satu kendala terbesar adalah ketersediaan guru bahasa Inggris yang memenuhi standar kompetensi untuk jenjang sekolah dasar. Selain itu, akses terhadap buku-buku bacaan berbahasa Inggris yang sesuai dengan kurikulum juga masih terbatas karena harganya relatif mahal," katanya.
Baca juga : Anggota Polres Soetta Bantu Pengemudi Mobil Alami Pecah Ban
Kehadiran Alya menambah daftar penulis cilik Indonesia yang menghasilkan karya dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, sejumlah nama seperti Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto juga telah menunjukkan prestasi serupa.
Principal Delima School Jakarta, Ferris Affan, menilai munculnya penulis muda seperti Alya tidak terlepas dari berkembangnya sekolah dwibahasa, kemudahan akses teknologi, serta meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya literasi sejak usia dini.
"Kami mewajibkan penggunaan bahasa Inggris bagi seluruh siswa dan tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun budaya literasi dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa sejak dini," jelas Ferris.
Bagi Ferris, prestasi Alya bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bukti bahwa dengan lingkungan belajar yang tepat, siswa sekolah dasar Indonesia mampu menghasilkan karya dan bersaing di tingkat global. (Asp)