Diary of Alya: Tiga Buku dari Penulis Cilik yang Menginspirasi Budaya Baca-Tulis

Alya meluncurkan tiga buku berbahasa Inggris yang tergabung dalam serial Diary of Alya. Buku-buku tersebut mendapat perhatian dari sejumlah tokoh nasional. Dimana kata pengantar ditulis Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, sementara komentar apresiatif datang dari pakar psikologi pendidikan anak Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar komunikasi Prof. Effendi Gazali, PhD, serta artis sekaligus ibu, Inul Daratista.
Rabu, 10 Juni 2026, 05:36 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Peluncuran tiga buku karya penulis cilik Putri Alya Sidik di Jakarta pada Selasa (9/6) bukan sekadar perayaan lahirnya talenta baru di dunia literasi. Kehadiran siswi sekolah dasar berusia sembilan tahun itu justru menjadi pengingat keras bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam budaya membaca dan menulis.

Alya meluncurkan tiga buku berbahasa Inggris yang tergabung dalam serial Diary of Alya. Menariknya, buku-buku tersebut mendapat perhatian dari sejumlah tokoh nasional. Kata pengantar ditulis Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, sementara komentar apresiatif datang dari pakar psikologi pendidikan anak Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar komunikasi Prof. Effendi Gazali, PhD, serta artis sekaligus ibu, Inul Daratista.

Di tengah minimnya jumlah penulis anak di Indonesia, capaian Alya menjadi fenomena yang patut diapresiasi. Namun di balik prestasi tersebut, tersimpan fakta memprihatinkan mengenai kondisi literasi nasional.

Data UNESCO menunjukkan Indonesia masih berada di jajaran bawah dalam tingkat literasi dunia. Minat baca masyarakat tercatat hanya 0,001, yang berarti hanya satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki kegemaran membaca. Kondisi budaya menulis bahkan dinilai lebih rendah karena masyarakat Indonesia masih didominasi tradisi lisan dan konsumsi konten audiovisual.

Baca juga : Sopir Taksi Online yang Melakukan Pelecehan Seksual Positif Gunakan Sabu

Tantangan tersebut semakin besar seiring masifnya penggunaan teknologi digital. Data UNICEF tahun 2024 mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221 juta orang. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 39,71 persen anak usia dini sudah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid sendiri telah mendorong pembatasan penggunaan internet bagi anak serta mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengembangkan budaya membaca dan menulis sejak usia dini.

Dalam peluncuran serial Diary of Alya, Prof. Dr. Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengungkapkan sedikitnya lima faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kegemaran membaca dan menulis masyarakat Indonesia.

Pertama, minimnya keteladanan dan dorongan dari orang tua dalam membangun kebiasaan membaca pada anak. Kedua, berkembangnya literasi digital yang cenderung pasif sehingga anak lebih banyak mengonsumsi konten instan yang kurang melatih kemampuan berpikir kritis.

Baca juga : Duta Baca Kabupaten Subang Bukan Sekadar Gelar Melainkan Inspirator dan Penggerak Budaya Literasi

Ketiga, aktivitas menulis masih dianggap sekadar tugas akademis sehingga kreativitas anak kurang terasah. Faktor keempat adalah belum meratanya akses terhadap buku, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sedangkan faktor kelima adalah kurangnya peran keluarga dalam menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

Pandangan tersebut diamini Gregoria Ira, Vice Principal Delima School Jakarta. Menurutnya, kurikulum dan buku teks yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan siswa.

"Serbuan media digital membuat anak lebih akrab dengan budaya tutur dan audiovisual. Karena itu sekolah harus mampu menciptakan keseimbangan," ujarnya.

Sebagai solusi, Delima School menggabungkan konsep sekolah digital dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang menekankan pembiasaan membaca dan menulis.

Baca juga : DPW Lasqi Nusantara Jaya Jawa Barat Siap Bangun Desa Budaya di Tiap Kabupaten

"Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apa pun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak," kata Ira.

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis bukan hanya keterampilan akademik, melainkan alat utama untuk membentuk cara berpikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, hadirnya sosok Alya menjadi bukti bahwa budaya literasi masih bisa tumbuh dan berkembang. Tantangannya kini adalah bagaimana menjadikan kisah inspiratif seorang penulis cilik berusia sembilan tahun sebagai gerakan bersama untuk membangkitkan kembali budaya baca dan tulis di Indonesia. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal