LampuHijau.co.id - Film dokumenter berjudul All That Separates Us Is Distance kini diputar di Indonesia. Film ini sebagai bagian dari upaya mendorong diskusi terkait persoalan keselamatan nelayan dan kesetaraan gender pada sektor perikanan.
Film yang diproduksi atas inisiatif Lloyd's Register Foundation dengan menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara lokasi produksi. Salah satu lokasi pengambilan gambaran yakni di Pelabuhan Ratu.
Tokoh utama dalam kisah Indonesia adalah M. Nurafandi alias Dede Sinar, seorang nelayan yang merepresentasikan peran penting profesi tersebut dalam menopang keluarga, komunitas, dan sistem pangan.
Kisahnya ditampilkan berdampingan dengan Emmanuel di Ghana dan James di Inggris, yang sama-sama menghadapi risiko tinggi dalam pekerjaan mereka.
Film ini menggambarkan kehidupan nelayan beserta keluarganya. Karya ini difokuskan menjadi titik awal dialog di tanah air yang menggambarkan realitas kehidupan nelayan beserta keluarganya.
Pemutaran ini juga sekaligus menghubungkan pengalaman lokal dengan perspektif global terkait keselamatan di laut. Head of Research on Maritime Law, Policy, and Governance, Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI), Setyawati Fitrianggraeni mengungkapkan, jika pihaknya mendorong terciptanya ekosistem maritim yang lebih aman dan beretika.
“GISLI adalah ajakan bergerak bersama untuk mewujudkan ekosistem maritim yang lebih selamat dan beretika. Kami percaya bahwa kerangka hukum dan tata kelola mencapai efektivitas tertingginya ketika memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan setiap individu yang bergantung pada laut," kata Setyawati dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Selasa, (5/5).
Head of Maritime Systems Lloyd’s Register Foundation, Olivia Swift menekankan pentingnya menghadirkan sisi manusia dalam narasi tentang nelayan.
Baca juga : Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Di Kota Tangerang Hari Ini Resmi Dimulai
"Pemberitaan tentang nelayan sering berbicara soal risiko, tapi di balik itu ada manusia dengan harapan, keluarga dan komunitas. Sangat penting untuk menceritakan kisah mereka dan membiarkan suara mereka didengar,” imbuhnya.
Koordinator International Fund for Fishing Safety (IFFS), Alan McCulla, menyebut nelayan di berbagai negara memiliki keterkaitan yang kuat.
"Ada ikatan antara nelayan di Indonesia, Ghana, dan Inggris. Satu-satunya yang memisahkan mereka adalah jarak. Pada akhirnya, tujuannya adalah menyelamatkan jiwa, melindungi keluarga, dan komunitas," tuturnya.
Country Lead Ocean Centres Indonesia, Randhi Satria menilai jika pemutaran film ini relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap perlindungan nelayan di Indonesia.
Baca juga : Kedaulatan AI, Dorong Transformasi Digital dan Ekonomi Indonesia
"Pemutaran film ini hadir pada momentum yang sangat relevan, termasuk dengan ratifikasi ILO C188. Keselamatan merupakan fondasi penting bagi ekonomi laut yang berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Safety at the Heart of Sustainability dan target Sustainable Development Goals (SDG) 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
GISLI sendiri merupakan organisasi dengan fokus meningkatkan kesadaran keselamatan pelayaran di tanah air. GISLI saat ini di Ketuai langsung oleh Irjen Pol purnawirawan Mudji Waluyo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Selatan.(FrK)