SGY Kupas “Kehebatan” Pramono, Ingatkan 9 Karakter Ini Bisa Jadi Bumerang

Senin, 6 April 2026, 07:17 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Pengamat kebijakan publik Sugiyanto menilai Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo sebagai sosok pemimpin hebat dengan pengalaman lengkap di dunia politik dan pemerintahan. Namun, di balik keunggulan itu, ia mengingatkan ada sembilan karakter yang berpotensi menjadi kelemahan jika tak dikelola dengan tepat. Menurutnya, Jakarta beruntung dipimpin Pramono yang punya rekam jejak panjang, mulai dari Sekjen partai pemenang pemilu hingga dua periode menjabat Sekretaris Kabinet di era Presiden Joko Widodo.

“Ia figur matang, piawai menjaga keseimbangan politik, dan punya jaringan kuat lintas lembaga,” ujar SGY, sapaan Sugiyanto, Senin (6/4/2026). Kemampuan Pramono membaca dinamika politik juga dinilai mumpuni. Ia disebut mampu menjaga relasi di tengah dinamika antara Megawati Soekarnoputri dan Jokowi, serta memiliki kedekatan dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Tak hanya itu, latar belakang sebagai pengusaha turut memperkaya perspektif Pramono dalam mengambil keputusan berbasis efisiensi dan realitas ekonomi.

Sembilan Karakter Jadi Catatan

Baca juga : Bupati Tangerang Luncurkan Beasiswa Buat Warga Miskin Jadi Penerbang

Meski memuji, SGY mengingatkan ada sembilan karakter Pramono yang perlu ditransformasikan agar tak menjadi hambatan dalam kepemimpinan. Pertama, terlalu baik hati. Kedua, enggan mengecewakan pihak lain. Ketiga, kuat menjaga kondusivitas internal ASN dan BUMD. Keempat, cenderung menghindari konflik terbuka. Kelima, tingkat kepercayaan tinggi kepada bawahan.

Keenam, sangat hati-hati dalam memberi sanksi atau rotasi jabatan. Ketujuh, lebih mengayomi bawahan. Kedelapan, dinilai minim ambisi politik, tercermin dari keinginannya hanya menjabat satu periode. Kesembilan, terlalu rendah hati dan kurang menonjolkan legacy kebijakan baru. “Karakter ini sebenarnya positif, tapi dalam konteks kepemimpinan eksekutif seperti Jakarta, bisa jadi hambatan kalau tidak diimbangi ketegasan,” tegasnya.

SGY menilai, karakter tersebut harus diubah menjadi kekuatan strategis. Sikap baik hati, misalnya, perlu diiringi orientasi kinerja. Kepercayaan kepada bawahan harus dibarengi pengawasan ketat. Begitu juga keinginan menjaga situasi kondusif harus diimbangi kemampuan mengelola konflik secara produktif, bukan menghindarinya. Ia juga mengingatkan potensi munculnya praktik “asal bapak senang” (ABS) di lingkungan birokrasi.

Baca juga : Hadiri Peluncuran Kartu Debit Visa, Pramono: Langkah Awal Transformasi Bank Jakarta

Karena itu, ketegasan dalam pengambilan keputusan dinilai menjadi kunci. “Kalau terlalu hati-hati, keputusan bisa jadi netral, padahal Jakarta butuh langkah cepat dan tegas,” ujarnya. SGY menegaskan, kompleksitas persoalan Jakarta—mulai dari kemacetan, banjir, sampah, hingga ketimpangan sosial—membutuhkan pemimpin yang tak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga berani membuat terobosan.

Apalagi, dengan waktu kepemimpinan yang disebut hanya satu periode, ruang gerak Pramono dinilai terbatas. Karena itu, transformasi karakter menjadi faktor penentu apakah Pramono mampu meninggalkan legacy kuat bagi Jakarta. “Bukan soal tidak punya kelemahan, tapi bagaimana mengelola dan mengubahnya jadi kekuatan,” jelasnya. 

SGY juga mendorong masyarakat Jakarta untuk aktif memberikan masukan konstruktif kepada gubernur. Ia bersama sejumlah aktivis mengaku akan terus menyampaikan kritik dan solusi, termasuk terkait kinerja pejabat dan BUMD. “Semua demi kemajuan Jakarta dan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (DTR)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal