LampuHijau.co.id - Pengamat kebijakan publik Sugiyanto menilai inovasi water purifier yang dikembangkan PAM Jaya menjadi langkah strategis dalam menjawab kebutuhan air minum aman di Jakarta, sekaligus mendukung pengurangan sampah plastik. Hal itu disampaikan Sugiyanto dalam diskusi Ezy TV Podcast Series yang digelar di Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2026). Acara tersebut menghadirkan Direktur Strategis & Bisnis PAM Jaya Anugrah Esa, tokoh masyarakat Tobias Pattiasina, dan dipandu host Fauzan Lutsah.
Menurut Sugiyanto, kebutuhan air minum yang aman di perkotaan seperti Jakarta terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, serta keterbatasan sumber air baku berkualitas. “Air minum yang aman adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan produktivitas masyarakat,” ujar SGY, sapaan akrab Sugiyanto.
Baca juga : DPRD DKI Dorong PAM Jaya Galakkan Sosialisasi Air Siap Minum
Ia menjelaskan, inovasi water purifier menjadi solusi praktis karena mampu menyaring air melalui teknologi berlapis, mulai dari karbon aktif, ultrafiltrasi hingga reverse osmosis, sehingga dapat menghilangkan bakteri, virus, hingga logam berat. SGYmenambahkan, penggunaan water purifier juga relevan dalam masa transisi layanan air minum perpipaan di Jakarta. Pasalnya, masih terdapat jaringan pipa lama yang berpotensi memengaruhi kualitas air.
“Di masa transisi ini, water purifier menjadi solusi rasional agar air tetap aman dikonsumsi langsung,” katanya. Tak hanya soal kesehatan, SGY menekankan pentingnya inovasi ini dalam perspektif lingkungan. Ketergantungan terhadap air minum dalam kemasan dinilai menjadi penyumbang besar sampah plastik. Ia mengingatkan, Indonesia kerap disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, yang tidak hanya mencemari lingkungan domestik tetapi juga laut hingga lintas negara.
Baca juga : Kinerja Positif, Air PAM Jaya Sudah Masuk Kawasan Citra Garden Puri Semanan
Karena itu, penggunaan water purifier dinilai sejalan dengan kebijakan pengurangan sampah plastik, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju konsumsi yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, SGY juga menyoroti inovasi kemasan air berbasis kertas sebagai alternatif pengganti plastik. Meski masih menghadapi tantangan biaya dan teknologi, langkah ini dinilai sejalan dengan konsep ekonomi sirkular.
Di sisi lain, ia mengapresiasi kinerja PAM Jaya dalam meningkatkan cakupan layanan air bersih. Sejak pengambilalihan pengelolaan pada 2023, cakupan layanan meningkat dari sekitar 59,53 persen menjadi lebih dari 80 persen pada 2026. Jumlah pelanggan pun naik signifikan dari sekitar 948 ribu sambungan rumah menjadi lebih dari 1,17 juta sambungan. Panjang jaringan pipa juga bertambah dari 12.195 km menjadi 16.234 km. Ke depan, PAM Jaya menargetkan cakupan layanan 100 persen pada 2029, dengan kebutuhan air baku mencapai 32.950 liter per detik.
Baca juga : Sambut Tahun 2025, PAM Jaya Fokus Peningkatan Cakupan Air Minum 100 Persen di Jakarta
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, SGY mendorong pengembangan sumber air baku alternatif, seperti pemanfaatan air hasil pengolahan limbah, desalinasi air laut, hingga pembangunan infrastruktur besar seperti terowongan air dan tanggul laut raksasa (giant sea wall). “Penyediaan air minum ke depan harus terintegrasi antara teknologi, kebijakan, dan kesadaran lingkungan,” tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa kombinasi penguatan infrastruktur, penggunaan pipa food grade, serta inovasi ramah lingkungan menjadi kunci menghadirkan layanan air minum yang aman dan berkelanjutan. “Air minum sehat, berkelanjutan, dan minim plastik bukan hal yang utopis, tetapi bisa diwujudkan secara bertahap,” pungkasnya. (DTR)