LampuHijau.co.id - Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara menyebut timbulnya bau tak sedap di RDF 3R Rorotan Cilincing diakibatkan tercampurnya sampah organik dengan anorganik. Untuk itu masyarakat Jakarta Utara dihimbau agar dapat memisahkannya terlebih dahulu jenis sampah rumah tangga yang ingin dibuang, jangan langsung dicampur jadi satu.
"Biar tidak bau harus di pilah, sampah kita dari rumah tangga itu harus di pilah. Kalau sampah anorganik doang yang ke RDF saya yakin tidak akan ada bau, tapi kalau kecampur dengan organik, sehari aja pasti akan bau," terang Kasudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edi Mulyanto saat dikonfirmasi, Jumat (23/1).
Menurut Edi, di era sekarang ini lebih banyak ditemukan sampah anorganik diwilayah Jakarta Utara dibandingkan sampah organiknya. "Dulu sebelum pandemi covid 19, sampah organiknya lebih banyak, tetapi setelah pandemi covid 19 malah kebanyakan sampah yang anorganik," kata Edy.
Karena kata Edi, mindset masyarakat berubah setelah pandemi covid 19. Tadinya organiknya 60 persen per 40 persen. "Sekarang apa-apa kan pesan lewat online, pakai kemasan. Paling isinya makanannya kecil. Jadi sekarang di Jakarta Utara sampah anorganiknya lebih banyak sekitar 51 persen dan organiknya 49 persen," beber Edy.
Baca juga : LBH Tangerang: Masyarakat Menanti Langkah Penegak Hukum
Pun, untuk pengelolaan sampah anorganik itu sendiri kata Edy, pihaknya memberi solusi melalui bank sampah yang ada dan untuk residunya dari anorganik akan di dorong ke pabrik RDF yang ada di Rorotan Cilincing untuk pengganti batu bara. "Ternyata kal nya itu cukup tinggi dan ada nilai cuan yang bisa dijadikan PHD. Kalau sudah di jual bisa kerjasama dengan pabrik semen," ujar dia.
"Jadi pabrik semen itu membutuhkan seharinya 8000 ton dari RDF. 1 ton itu bisa dihargai 400 ribu. Mudah-mudahan masrakat kita bisa melihat, jangan cuma demo-demo terus di RDF," ungkapnya.(RIP)