Keseruan Aki-aki & Nini-nini, Alumni Kelas 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan Tahun 1978 Reunian ke Bandung

Senin, 17 Nopember 2025, 22:26 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Para alumni Kelas 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan, yang sekelas di tahun 1978, melanjutkan kegiatan rutin silaturahminya dengan jalan-jalan ke Bandung, Senin (17/11/2025).

Bepergian di bukan hari libur sengaja dipilih, dengan memperhitungkan perjalanan lancar, dan mereka kembali ke rumah sesuai rencana, menepati janji pada anak dan cucu. Kehebohan perjalanan ke Bandung sudah terasa sejak jauh-jauh hari.

Yang wajib diutamakan adalah izin dari keluarga, baik suami/istri, anak, dan bahkan cucu. Maklumlah, para alumni kelas 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan ini sudah berada di kategori lansia, berusia antara 65-66 tahun.

Jadi, izin dari keluarga hukumnya wajib. Bisa dibayangkan keseruan perjalanan aki-aki dan nini-nini ini. Mereka sudah meramu itinerary untuk memuluskan segalanya: sarapan pagi di RM Nasi Bancakan di Diponegoro, lanjut ke Sweetheart di Bawean, membeli bolu mocca. Setelahnya beranjak ke Kartika Sari di Juanda, kemudian menuju Astro Highlands Ciater.

Di Astro Highlands Ciater, istirahat untuk sholat, makan siang dan ngopi. Dari Astro, ke jalan Cagak, membeli nanas Subang. Kemudian ke Kalijati, ke kediaman Arief (Ayip), teman sekelas yang sudah lama tinggal di sana. Dari Kalijati ini mereka kembali ke Jakarta, dengan perhentian bus terakhir di Lebak Bulus.

Reuni para sahabat baby boomers ini selalu menghibur. Saat perjalanan dimulai dari Citos sekitar pukul tujuh pagi, keseruan di atas bus wisata sudah terasa.

Lajuanda, ketua kelas, harus menahan keinginannya untuk merokok. Di tengah perjalanan, mereka tak malu-malu lagi untuk bersenandung. Berkaraokean.

"Yerson suaranya bagus, begitu juga Iis," seru Saraswati, yang tak pernah absen ikut reunian.

Baca juga : Hadir Menjadi Solusi, Dirut Arief Pastikan PAM JAYA Bangun Akses Air Perpipaan di Muara Angke

Yerson dulunya termasuk yang jarang bergaul, bawaannya pendiam. Ternyata dia jago nyanyi. Kalau Iis, tepatnya Aisyatul Islamiyah, sejak dulu suaranya memang merdu. Dia pembaca puisi andalan dari SMAN IX. Iis, Dewi, Saras, Linda dan Esti, meramaikan reuni dengan jalan-jalan ke Bandung ini.

Tidak semua anggota kelas 2 IPA 3 SMAN IX tahun 1978 itu ikut reunian ke Bandung. Dari 40-an siswa/i, beberapa di antaranya sudah mendahului, kali ini hanya 14 orang yang bisa meluangkan waktunya. Yang lelaki, Lajuanda, Sabartian Ubay, Nuri, Opik, Nunu, Ayip, Glen, Yerson, serta Fauzi dan Dahrul.

Para sahabat Dupati ini masuk atau mulai bertemu di SMAN IX tahun 1977, di usia 17 tahun. Sebagian sudah satu ruangan di kelas satu, lalu sekelas lagi ketika pembagian jurusan.

Ada juga yang masih bertemu di kelas tiga di tahun 1979. Namun mereka ke luar bersamaan, di pertengahan 1980 karena adanya perpanjangan masa belajar enam bulan dari kebijakan Mendikbud Daud Yoesoef.

Sahabat Dupati ini di masa mudanya dikenal sebagai pekerja keras, kompetitif, dan memiliki komitmen tinggi, tumbuh di masa kemakmuran ekonomi pasca-perang dan mengalami perubahan sosial yang besar. Karakteristik lainnya termasuk kemandirian, loyalitas, dan kecenderungan untuk mempertahankan tradisi, seperti reuni ini mungkin.

Sebagian besar dari para sahabat di SMAN IX, termasuk Dupati, adalah pencinta alam. Masih terkenang akan salah satu lagu wajib pencinta alam dulu; Di Jenjang Desember.

Di Jenjang Desember

Dan bila senyum duka

Baca juga : Rugikan Negara Nyaris Rp 1 T, Komisaris PT PE Dituntut 11 Tahun Penjara di Korupsi Kredit Fiktif LPEI

Terawang di ufuk senja Itu tanda ku tiada

Dan bila matahari

Terbenam di ufuk timur Itu tanda ku tiada

Di jenjang Desember kau datang padaku

Kan kubimbing kelereng semeru

Kubelai rambut yang hitam

Dan kau senyum malu

Ooh indahnya Mahameru

Baca juga : Kerugian Negara Rp 299 M Kasus Kredit Bank Jatim Cabang Jakarta Ngalir ke Pemilik PT Indi Daya Group

Di ujung bibirmu kureguk cintamu

Penyegar, penghangatkan tubuhku

Burung-burung kan bernyanyi

Alampun berseri Ooh indahnya Mahameru...

Lagu di jenjang Desember tidak diciptakan oleh Soe Hok Gie. Tetapi merupakan lagu yang terinspirasi oleh peristiwa meninggalnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969.

Lagu ini sering dikaitkan dengan Soe Hok Gie karena perannya sebagai aktivis dan pendaki gunung, serta tempat ia meninggal.

Di Jenjang Desember menjadi simbol kesedihan dan pengingat akan idealisme yang dianut oleh Soe Hok Gie. Tak ada yang lebih menyenangkan dan mengharu-biru selain masa-masa di SMA.

Maka keindahan dan kenangan masa remaja itu pula yang senantiasa mewarnai reuni aki-aki dan nini-nini dari Dupati ini, mengingat rata-rata usia mereka kini 65-66 tahun. Mungkin benar juga, usia hanya sekadar angka, kebahagiaan milik siapa saja. (ULI)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal