LampuHijau.co.id - Para ASN (Aparatur Sipil Negara) alias Pegawai Negeri Sipil (PNS) nantinya diwajibkan pemerintah pindah ke ibu kota baru Republik Indonesia, di Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Bagaimana nasib anak istri para ASN yang ada di Jakarta? Demikian pertanyaan psikologis yang dilontarkan Ketua Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) Daniel Hutapea pada pemerintah.
"Itu harus dipikirkan. Bagaimana nasib anak istri para ASN yang wajib pindah itu? Mereka, apa mau pindah? Belum tentu mau pindah mereka karena sudah betah di Jakarta," ujar Daniel.
Kepada Lampu Hijau Thejak, di Kawasan Jl. Jaksa, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019), ia menanyakan, apakah mereka bersedia ikut suami ke Kalimantan Timur? "ASN diwajibkan pindah ke Kaltim (ibu kota baru). Sedangkan, istrinya pasti kan jagain dan ngawasin anaknya di Jakarta. Mungkin tidak itu mereka ikut pindah?
Baca juga : Gubernur Anies Fasilitasi Bangun Kantor Diaspora di Jakarta
Pindah ke sana, sedangkan SD sampai SMA, mereka betah di Jakarta. Biasa di sini enak, misalnya sekolah di Vincentius, terus disuruh pindah ke Kalimantan yang sepi begitu. Belum lagi yang masih kecil-kecil anak-anaknya. Mana mau mereka? Karena, pergaulannya sudah enak di sini (Jakarta), semua fasilitas ada," ungkapnya.
Jika ratusan ribu ASN wajib pindah ke ibu kota baru di Kalimantan, cetus Daniel, maka berarti akan banyak janda di Jakarta. "Lha, kalau enggak mau ditinggal, para istrinya? Akhirnya, kan, cerai, para ASN nikah lagi di Kalimantan. Banyak janda nantinya di Jakarta. Apalagi, cewek-cewek Dayak (Kalimantan) cantik-cantik. Pasti para ASN menikahi cewek-cewek di Kalimantan karena di sana kesepian," ungkapnya.
Para ibu (istri ASN itu) tentu tidak mungkin meninggalkan anak-anaknya di Jakarta, ucap Daniel. "Pasti ibunya jagain anak-anaknya di Jakarta. Dan, enggak mungkin suami bolak balik Jakarta-Kalimantan karena biaya mahal. Jadi, siap-siap saja stok cewek banyak di Kalimantan untuk menemani suami-suami yang kesepian. Siap-siap saja cewek-cewek Kalimantan dinikahi para ASN karena cantik-cantik," tandasnya.
Baca juga : Mendata Keluarga di Ibu Kota, Pemprov DKI Pakai Aplikasi Carik Jakarta
Begitu pun, kata Daniel, dengan para istri yang menjadi ASN dan pindah ke Kalimantan. "Masing-masing akan dapat godaan. Juga begitu istrinya yang ASN di Kalimantan, suaminya di Jakarta pasti tidak mungkin pindah. Belum tentu di Kalimantan dapat kerja baru di sana. Sedangkan, Jokowi tenang-tenang istirahat di Solo setelah pindah ibukota (usai tidak jadi Presiden)," imbuhnya.
Daniel menambahkan, yang menjadi masalah lagi adalah semua pejabat negara: menteri, Presiden dan lainnya harus tinggal di Kalimantan. "Lalu, kalau Presiden masa datang maunya pindah ke Jakarta, bagaimana? Kalau dia tetap maunya di Jakarta, maka jadi biaya tinggi lagi. Buang-buang biaya lagi tentunya. Rp466 triliun itu sangat besar," kritiknya.
Sejumlah ASN di kementerian dan lembaga pemerintah pusat pun mengaku cemas pindah ke ibu kota baru di Kalimantan Timur karena belum ada kepastian terkait berbagai fasilitas, terutama pendidikan dan kesehatan. Salah seorang di antaranya Dian, PNS yang sudah bekerja lima tahun di salah satu kementerian.
Baca juga : Kota Cirebon Pertahankan Predikat Kota Layak Anak Kategori Madya
"Nanti ada fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, tapi nggak tahu di sana seperti apa, itu saja yang kita jadi pikiran," ucap Dian, ibu dua anak yang mengaku anak tertuanya masih duduk di sekolah dasar, dan yang paling kecil berusia 1,5 tahun.
Sekitar 130.000 dari 180.000 PNS yang ada di Jakarta saat ini diperkirakan akan pindah ke ibu kota baru - di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara - pada 2024.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Syafruddin mengatakan pihaknya akan menyiapkan berbagai fasilitas untuk para aparatur sipil negara ini. "Sekitar 180.000 itu tentu sebagian, kira-kira 30% tidak kena. Karena, mereka itu sebagian akan pensiun. Paling tidak ada yang pensiun tahun ini ada yang pensiun tahun 2021 sampai 2024," kata Syafruddin, Selasa (27/08/2019). (AGS)