LampuHijau.co.id - Di tengah maraknya kasus kebocoran data kependudukan, Muhammad Ari Pratomo memilih jalur tak biasa untuk melawan dengan menulis novel. Karya berjudul “NIK: Nama Ini Korban” itu menjadi senjata protesnya terhadap lemahnya perlindungan data pribadi di Indonesia.
Bukan sekadar fiksi, novel ini lahir dari luka nyata. NIK milik Ari disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Alih-alih hanya mengeluh, ia menuangkannya ke dalam alur dramatis yang memadukan fakta dan imajinasi.
“Rasanya marah, kesal, dan tak berdaya. Novel ini adalah bentuk perlawanan saya. Data pribadi itu hak asasi, bukan komoditas,” ujarnya tegas.
Melalui tokoh-tokoh yang diilhami kisah nyata, Ari mengajak pembaca menyelami gelapnya dunia penyalahgunaan data. Sebuah realitas yang sering luput dari perhatian publik. Ia menegaskan, sekali data bocor, konsekuensinya bisa menghantui seumur hidup.
“NIK: Nama Ini Korban” kini dapat diakses secara digital lewat Google Books, menjadikannya manifesto terbuka agar publik tidak diam terhadap pelanggaran privasi.
Fenomena ini kembali memantik desakan agar pemerintah dan penyedia layanan digital tak lagi menganggap remeh keamanan data. Kasus Ari hanyalah satu cerita dari lautan korban yang tak terdengar suaranya.
Baca juga : PT DKI Kabulkan Perlawanan KPK, Sidang Gazalba Saleh Dilanjutkan
Dan jika negara masih abai, bukan tidak mungkin, besok nama Anda yang akan jadi judul cerita. (Asp)