Muzani: Jaga Konsensus Kebangsaan, Indonesia Dibangun dari Semangat Bersama

Ketua MPR RI Ahmad Muzanisaat menghadiri Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Keluarga Besar Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII), di Gedung GBHN, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Minggu (3/8/2025).
Minggu, 3 Agustus 2025, 20:56 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga dan merawat konsensus kebangsaan yang menjadi fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan ini disampaikannya saat menghadiri Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Keluarga Besar Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII), di Gedung GBHN, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Minggu (3/8/2025).

Dalam sambutannya, Muzani menegaskan bahwa Gedung GBHN bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan panjang bangsa dalam merumuskan arah pembangunan nasional.

"Gedung ini menjadi saksi sejarah penting bangsa. Di sinilah Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) pernah dirumuskan. Di masa reformasi, di gedung ini pula amandemen UUD 1945 dilakukan untuk memperkuat demokrasi kita. Hari ini, pelantikan alumni PII berlangsung di tempat bersejarah ini, dan itu adalah kehormatan besar,” ujar Muzani, menegaskan relevansi sejarah dengan tantangan masa kini.

Baca juga : Dilimpahkan ke Kejaksaan, Nikita Mirzani dan Ismail Beda Perlakuan Borgol

Muzani menilai, pelantikan alumni PII yang berlangsung dua pekan menjelang HUT ke-80 RI adalah momentum reflektif bahwa Indonesia lahir dari konsensus para pendiri bangsa, yang mesti dijaga dan diperkuat di tengah derasnya arus perubahan global.

"Indonesia adalah negara yang dibangun dari semangat bersama, bukan oleh satu golongan atau kelompok. Konsensus itu harga mati yang wajib kita jaga sebagai warga negara," tegasnya.

Mantan Sekjen Partai Gerindra itu juga menyinggung peran strategis PII yang berdiri pada 1947, hanya dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Ia menyebut PII lahir dari kesadaran kaum pelajar bahwa perjuangan tidak berhenti di medan tempur, melainkan harus berlanjut melalui dunia pendidikan.

Baca juga : Dedi Mulyadi: Orang Subang Bukan Butuh Persikas Tapi Jalan dan Sekolah yang Baik

"Perjuangan fisik telah selesai, namun perjuangan intelektual tak boleh padam. Dari ruang kelas, sekolah, hingga kampus, PII hadir mengisi kemerdekaan dengan mencetak kader-kader bangsa yang berintegritas," kata Muzani.

Di mata Muzani, PII adalah organisasi yang lentur dan adaptif, namun tetap setia pada jati dirinya sebagai kawah candradimuka kaum pelajar. Meski fokus di bidang pendidikan, PII selalu hadir di garis depan ketika bangsa memanggil.

"PII bisa kembali ke sekolah, ke kampus. Tapi ketika Indonesia memanggil, PII selalu tampil di gelanggang perjuangan. Inilah semangat yang harus diwariskan kepada generasi muda kita,” pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal