LampuHijau.co.id - Media Digital saat ini makin masif dan dapat dengan mudah diterima masyarakat. Hal ini tentunya berdampak pada eksistensi media mainstream yang terus berjuang agar bisa tetap bertahan di tengah masifnya media sosial.
Nasrullah Kusadjibrata, sekretaris program studi Fakultas Komunikasi Universitas Moestopo menyebut jika perkembangan media mainstream memang terus tergerus oleh media sosial. Contohnya anak anak yang lahir di tahun 2005 ke atas hampir dipastikan tidak pernah membaca koran. Ini terjadi karena semua informasi sudah dalam genggaman. Bahkan seorang ahli mengatakan jika media televisi tidak bisa bertransformasi menjadi media sosial otomatis akan ditinggalkan.
“Nyatanya saat ini media televisi sudah berupaya untuk mengikuti perubahan teknologi yang terbilang cepat, begitu pula dengan media radio yang kerap mengadakan podcast,” ujar Nasrullah dalam acara Panen News Goes to Campus Jurnalistik dan Workshop “Kebangkitan Media Digital” di Universitas Moestopo, Jumat, 11 Juli 2025.
Nasrullah menambahkan jika pada era tahun 80-90 informasi sangat sulit didapat, saat ini kenyataan informasi bukan lagi mudah, tapi malah membanjiri. “Konsekuensinya dari informasi yang banjir tersebut banyak sampah yang ikut dalam arus banjir tersebut. Sekarang menjadi kewajiban para pegiat media massa untuk menyajikan berita yang bukan ‘sampah’ sehingga engagement dari audiens bisa meningkat,” ujar Nasrullah.
Baca juga : Kadinkes Subang Beri Bantuan kepada Lansia Derita Penyakit Liver
Sementara itu General Manager Media Network Promedia Agil Hari Santoso mengatakan Promedia hadir saat wabah Covid melanda Indonesia di tahun 2021. Dimana karena wabah ini banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, untuk itu dirinya bersama tim membuat media agregator untuk menyiasati masifnya media sosial. Menurutnya dengan berjejaring maka media konvensional akan semakin kuat.
“Promedia hadir untuk menyiasati gencarnya gempuran media sosial yang banyak membawa ‘sampah’ untuk para pemegang gadget,” ucapnya.
Baca juga : Dibuka Pras, Basket Puan Maharani Cup 2022 Diikuti 22 Universitas
Lebih lanjut Agil mengatakan Promedia memberi kemudahan bagi individu yang ingin memiliki bisnis media. Jika sebelumnya diketahui bahwa biaya operasional media cukup tinggi, maka Promedia hadir untuk menyiasati hal tersebut.
“Untuk individu yang hendak membuat media tentunya harus memiliki latar belakang sebagai seorang jurnalis, karena perbedaan media sosial dengan media massa adalah kode etik, dimana para punggawa media massa dibekali kode etik jurnalistik. Hal ini menjadi pedoman, sehingga harapannya segala berita yang diproduksi bukanlah ‘sampah,” ujarnya. (wong)