LampuHijau.co.id - Kehadiran politisi Fadli Zon sebagai pembicara utama dalam Seminar Nasional Pendidikan Sejarah UNJ, Sabtu (5/7) lalu menuai penolakan keras dari mahasiswa. Fadli dikritik karena pernyataannya yang membantah tragedi pemerkosaan massal Mei 1998 dan wacana penulisan ulang sejarah.
Mahasiswa menilai kehadiran Fadli melecehkan nilai-nilai akademik. Namun suara kritis mereka ditekan. Ketua BEM Prodi Sejarah, Fathur Rahman, mengungkapkan mahasiswa dilarang menyuarakan penolakan dan bahkan dibatalkan hadir jelang acara.
Kritik yang disuarakan melalui media sosial juga ditekan. Pihak Kementerian Kebudayaan disebut meminta unggahan BEM diturunkan. Penulis unggahan, Arif (nama samaran), mengaku diteror dan rumahnya dipantau orang tak dikenal.
“Meski diancam, kami tetap bersuara. Jangan jadikan kampus alat kekuasaan,” tegas Arif.
Baca juga : Jerry Massie: Harus ada Sanksi, Karena Diduga ada Kolusi & Pelanggaran Etika
Pihak prodi dan kampus justru memilih bungkam. Sementara, tekanan disebut datang langsung dari oknum kementerian. Seminar yang seharusnya menjadi ruang ilmiah justru membuka tabir relasi kuasa dan upaya membungkam sejarah kritis. (Asp)