Korupsi Politik, Serial Literasi Politik (𝑝𝑎𝑟𝑡 3 𝑜𝑓 10)

Anatomi Koruptor Politik, Mengungkap Siapa Saja Pelaku Korupsi Politik: Dari Pejabat Eksekutif, Legislatif, hingga Elite Partai

Ilustrasi penyuapan. (Foto: net)
Kamis, 29 Mei 2025, 19:29 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Di balik gedung-gedung megah ber-AC yang menyebut dirinya “wakil rakyat”, di balik senyum manis saat kampanye dan pidato manis saat pelantikan, ternyata ada anatomi lain yang tersembunyi: anatomi koruptor politik.

Mereka bukan lagi makhluk asing. Mereka adalah wajah-wajah familiar di baliho, nama-nama yang kerap muncul di spanduk, yang dulu minta dukungan, kini menghisap anggaran.

Korupsi politik bukanlah kerja sendirian. Ia adalah orkestra kegelapan yang dimainkan oleh para aktor dari berbagai panggung kekuasaan.

Baca juga : Korupsi Kerja Sama Cap Emas, Hakim: Direksi PT Antam Patut Diminta Tanggung Jawab Pidana

Di tingkat eksekutif, ada kepala daerah atau menteri yang memotong anggaran proyek demi "sumbangan politik". Di legislatif, anggota dewan “bermain mata” dengan rekanan dan SKPD demi jatah proyek. Di partai politik, elite-elite duduk seperti mafia, menentukan siapa yang harus "setor" agar dapat tiket pencalonan. Semua itu, terang atau gelap, bermuara ke satu tempat: kekuasaan yang tak lagi jadi amanah, tapi alat tukar.

Inilah bisnis kekuasaan yang sesungguhnya. Bupati bisa “membeli” suara DPRD untuk loloskan APBD, lalu dinas-dinas ditarget setoran. Gubernur bisa “bertransaksi” dengan pengusaha proyek strategis daerah, demi modal politik 2029.

Bahkan partai politik yang harusnya jadi benteng demokrasi justru berubah jadi “pabrik setoran”—setiap caleg diminta menyetor, setiap jabatan ditakar dengan mahar. Bukankah ini bentuk baru kolonialisme, tapi kini dijalankan oleh anak bangsa sendiri?

Baca juga : Eks Dirut Taspen Didakwa Rugikan Negara Rp 1 T di Kasus Investasi Fiktif

Tak heran, banyak politisi yang ketika kampanye tampak sederhana, tapi setelah terpilih mendadak punya rumah bak istana dan istri seperti selebgram.

Tangan mereka mencuri, lidah mereka berdalih, tapi hati nurani rakyat terus merintih. Mereka memang hadir dalam rapat-rapat kebijakan, tapi hatinya tertambat pada rekening di luar negeri. Mereka menari di atas kesulitan rakyat dan menjadikan kekuasaan sebagai ATM pribadi.

Korupsi politik bukan sekadar kriminal ekonomi. Ia adalah pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan kehinaan dalam dimensi spiritual. Karena setiap rupiah yang mereka tilap, adalah harapan anak yang batal sekolah, ibu yang tak bisa berobat, dan petani yang tetap miskin meski panennya melimpah.

Baca juga : Bantu Korban Gempa Bengkulu, BAZNAS Dirikan Dapur Umum dan Salurkan Makanan Siap Saji

Inilah anatomi korupsi politik: tubuhnya duduk di kursi kekuasaan, tapi ruhnya telah digadai kepada iblis kekuasaan.

Kakek saya, 𝐀𝐛𝐫𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐋𝐢𝐧𝐜𝐨𝐥𝐧, Presiden Amerika Serikat ke-16 menyatakan: "𝑁𝑒𝑎𝑟𝑙𝑦 𝑎𝑙𝑙 𝑚𝑒𝑛 𝑐𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑 𝑎𝑑𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖𝑡𝑦, 𝑏𝑢𝑡 𝑖𝑓 𝑦𝑜𝑢 𝑤𝑎𝑛𝑡 𝑡𝑜 𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑎 𝑚𝑎𝑛'𝑠 𝑐ℎ𝑎𝑟𝑎𝑐𝑡𝑒𝑟, 𝑔𝑖𝑣𝑒 ℎ𝑖𝑚 𝑝𝑜𝑤𝑒𝑟." “Hampir semua orang bisa bertahan dalam penderitaan, tetapi jika kau ingin menguji karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”

𝑊𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢 𝑎'𝑙𝑎𝑚. (𝐒𝐮𝐦𝐚𝐫𝐧𝐨, 𝐷𝑜𝑠𝑒𝑛 𝐹𝐼𝑆𝐼𝑃 𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑀𝑢ℎ𝑎𝑚𝑚𝑎𝑑𝑖𝑦𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑘𝑎𝑟𝑡𝑎 (𝑈𝑀𝐽)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal