LampuHijau.co.id - Pemilihan gubernur (Pilgub) Jakarta 2024, bukan hanya pertarungan para pasangan calon (paslon) yang berkontestasi. Tapi juga jadi pertarungan dukungan antara mantan gubernur DKI Jakarta, yang melalui proses pemilihan langsung. Yakni, Fauzi Bowo (Foke) dan Anies Baswedan versus Joko Widodo (Jokowi).
Foke dan Anies mendukung pasangan nomor urut 3, Pramono Anung dan Rano Karno. Sedangkan Jokowi, yang juga mantan Presiden, memberikan dukungan penuh kepada pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil (RK) dan Suswono (RIDO), yang didukung Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus).
Sementara itu, pasangan nomor urut 2, Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, yang maju melalui jalur independen, terlihat kesulitan menghadapi dua pasangan yang mendapat dukungan besar dari tokoh nasional dan partai politik besar.
Lalu, paslon mana yang bakal keluar sebagai pemenang? Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto menganalisa, jika Foke dan Anies adalah dua nama yang memiliki sejarah kuat di Jakarta. Foke menjabat sebagai Gubernur Jakarta periode 2007–2012 dan dikenal dekat dengan kelompok masyarakat Betawi.
Baca juga : Anies Hadiri Apel Siaga, Bang Doel: Jaga Harga Diri Warga Jakarta
Dukungan Foke terhadap pasangan Pramono Anung dan Rano Karno memberikan kepercayaan tambahan dari kalangan pemilih tradisional Jakarta. Anies, yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta periode 2017–2022, membawa kekuatan politik yang lebih luas. Popularitasnya di kalangan kelompok muda, relawan, dan masyarakat kelas menengah menjadi modal besar.
Dukungan Anies tidak hanya memperkuat citra pasangan Pramono-Rano sebagai pembawa perubahan, tetapi juga menyasar segmen pemilih yang menginginkan kesinambungan program-program sosial dan infrastruktur yang pernah ia gagas. “Namun, koalisi Foke dan Anies menghadapi tantangan besar. Meskipun keduanya memiliki basis loyal, keduanya tidak lagi memegang jabatan formal, sehingga pengaruh mereka saat ini bergantung pada daya tarik emosional dan nostalgia para pemilih,” kata SGY, sapaan Sugiyanto, Jumat (22/11/2024).
Sedangkan, pasangan RIDO, lanjut SGY, mendapatkan keuntungan dari mesin politik Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus), yang terdiri dari 13 partai besar, termasuk Partai Gerindra, Golkar, PKS, Nasdem dan PKB serta lainnya. Dukungan Jokowi, mantan Gubernur Jakarta sekaligus mantan Presiden RI, memberikan legitimasi tambahan kepada pasangan ini.
SGY menyebut, Jokowi figur yang sangat berpengaruh di Jakarta dan nasional. Selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta, ia dikenal dengan program-program populernya, seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan revitalisasi transportasi publik. Legasi ini memberikan efek elektoral yang signifikan kepada pasangan RK-Suswono, terutama di kalangan pemilih menengah ke bawah.
Baca juga : Pram-Rano Temui Anies, Sinyal Beri Dukungan di Pilkada Jakarta Semakin Nyata
“Selain itu, kehadiran Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Gerindra dan Presiden menambah kekuatan pasangan ini. Mesin politik KIM Plus bergerak agresif, menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat Jakarta. Ridwan Kamil yang memiliki citra teknokrat dan pemimpin inovatif menjadi kombinasi yang solid dengan Suswono, seorang tokoh senior yang memiliki pengalaman panjang di bidang politik dan birokrasi,” jelasnya.
Menurut SGY, jika diukur dari kekuatan jaringan, mesin politik, dan popularitas, dukungan Jokowi dan KIM Plus memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan dengan dukungan Foke dan Anies. Jokowi masih memiliki pengaruh elektoral yang kuat di Jakarta, terutama di kalangan pemilih loyalisnya yang menyebar di seluruh wilayah. Ditambah dengan dukungan KIM Plus, pasangan RK-Suswono menjadi favorit untuk memimpin putaran pertama.
“Namun dukungan Foke dan Anies tidak bisa diremehkan. Kombinasi pengalaman Foke dan magnet politik Anies dapat mempersempit jarak elektabilitas dengan pasangan RK-Suswono. Apalagi jika strategi mereka berhasil menggerakkan kelompok masyarakat tertentu, seperti komunitas Betawi dan segmen pemilih muda,” bebernya.
SGY bilang, meski RIDO terlihat lebih unggul berkat mesin politik yang besar, pasangan Pramono-Rano memiliki peluang jika berhasil memanfaatkan momentum dukungan emosional dari Foke dan Anies. “Pada akhirnya, masyarakat Jakarta harus tetap menentukan pilihan. Namun, kuatnya pengaruh mantan gubernur Foke, Anies Baswedan, dan Jokowi, ditambah dukungan partai politik besar, akan melahirkan pertarungan Pilkada Jakarta yang ketat dan pertempuran yang sengit,” ucapnya.
Baca juga : Relawan Anies-GKJ, Deklarasikan Dukung Pram-Rano di Pilkada Jakarta 2024
Mengingat ada tiga pasangan calon yang maju, SGY memprediksi Pilgub Jakarta 2024 akan berlangsung dalam dua putaran. Hal ini disebabkan oleh ketatnya persaingan, yang membuat sulit bagi salah satu pasangan calon untuk meraih lebih dari 50 persen suara dalam satu putaran. (DTR)