Sidang Pungli Rutan KPK, Eks Wali Kota Bekasi Ungkap Ada Tahanan Telanjang Sambil Senam

Mantan Wali Kota Bekasi Rachmat Effendi alias Pepen usai bersaksi dalam sidang kasus pungli di Rutan KPK, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (7/10/2024). (Foto: yud)
Senin, 7 Oktober 2024, 18:33 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Mantan Wali Kota Bekasi Rachmat Effendi alias Pepen yang juga mantan penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap, harus membayar sewa sel untuk tahanan khusus. Pasalnya, tahanan khusus itu mengganggu karena telanjang saat tahanan sekamar lainnya salat tahajud.

Pepen merupakan tahanan hasil operasi tangkap tangan (OTT) KPK atas kasus pengadaan barang dan jasa di Pemkot Bekasi. Dirinya dihadirkan jaksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan pungli di Rutan KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin, 7 Oktober 2024.

Dia ditahan sejak Januari 2022 hingga Agustus 2023. Sejak dirinya jadi koordinator tahanan alias korting mulai November 2022, uang yang harus disetorkan para tahanan kepada petugas rutan sejumlah Rp 87,5 juta per bulannya.

Uang disetorkan kepada komandan regu (danru) atau koordinator petugas rutan. Namun, ia menyebut bahwa pernah juga beban iuran bulanan membengkak menjadi Rp 97 juta per bulan. Pasalnya, ada sel yang berbayar diperuntukkan tahanan khusus.

Ketika korting diemban Apri Sujadi, ada tahanan yang merupakan mantan Wali Kota Yogyakarta harus memakai sel paling ujung dan diminta bayaran khusus. Pasalnya, wali kota tersebut harus menggunakan insulin setiap hari akibat penyakit gula yang dideritanya.

Baca juga : Pungli Rutan KPK: Hengky Wajibkan Tahanan Pegang "Botol", Tahanan Sampe Ngutang dan Jual Mobil

Sementara ketika Pepen menjadi korting, ada juga tahanan lain bernama Heryanto Tanaka yang juga harus memakai sel terpisah dengan tahanan lain yang normal.

Pepen pun menyampaikan hal ini kepada Riki, komandan regu (danru) saat itu lantaran Tanaka yang terkena kasus suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA), minta ditahan sendirian.

"Karena kalau jam 2 malem dia telanjang sambil senam. Sehingga mengganggu yang tiga orang itu yang di kamar. Bayangin orang mau tahajud jam 2 atau setengah 2 (malam), dia telanjang sambil senam," beber Pepen.

Akibatnya, rekan sekamar Tanaka minta pindah karena merasa terganggu. Sedangkan Tanaka akhirnya disatukan bersama tahanan khusus lainnya, yakni mantan Wali Kota Yogyakarta.

Akhirnya bertiga dengan mantan Gubernur Papua mendiang Lukas Enembe, yang juga jadi tahanan di sana. Persisnya di ruang isolasi tahanan baru, yang penggunaannya bergantian.

"Setelah isolasi selesai 2-3 hari, mereka (Tanaka, Wali Kota Yogyakarta, dan Lukas Enembe) masuk lagi," ucapnya.

Baca juga : Sidang Pungli Rutan KPK: Selain Jatah Bulanan, Mantan Tahanan Juga Dipalak Uang Rokok Rp 300 Ribu/Hari

Untuk permohonan izinnya, Pepen menyebut bahwa dia berkoordinasi dengan petugas Keamanan dan Ketertiban Rutan KPK Merah Putih saat itu. Dia mengaku meminta izin kepada Agung Nugroho dan Riki Rachmawanto.

Dan karena menjadi korting, Pepen meminta mantan anak buahnya di Pemkot Bekasi membuka rekening bank. Nantinya, digunakan sebagai penampung iuran bulanan para tahanan lain.

Tugasnya sekadar melanjutkan korting sebelumnya, mantan Bupati Bintan Apri Sujadi yang telah dieksekusi ke lembaga pemasyarakatan. Sementara bendahara korting saat itu, Arko Mulawan yang juga teman sekamar Pepen di rutan.

Sejak ditahan pada awal Januari 2022, Pepen diinapkan di ruang isolasi untuk 14 hari. Tapi ia hanya menjalani 7 hari karena menyatakan sanggup membayar Rp 3 juta.

Dia meminta tolong kepada tahanan lain yang dituakan di sana mengontak keluarganya, untuk memenuhi uang tersebut.

Selain itu, ada juga pembayaran uang Rp 20 juta di awal untuk penggunaan handphone dan power bank. Setelahnya, barulah ada pembayaran iuran bulanan yang besarannya sekitar Rp 4,5 juta sampai Rp 7 juta per bulan.

Baca juga : Sidang Kasus Pungli Rutan KPK: Mantan Tahanan Ngaku Dilarang Salat Jumat karena Nggak Bayar Upeti

Kalau tidak membayar, frekuensi beban pekerjaan di dalam rutan lebih banyak dibanding yang bayar iuran. "Seperti mengepel, mencuci piring, buang sampah, mencabut rumput tanaman," beber Pepen dalam sidang.

"Kalau yang membayar, pembagiannya agak lebih ringan," sambungnya yang kini menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cibinong, Bogor.

Sementara sejak ia menjadi korting, petugas rutan yang jadi koordinator atau lurah adalah Riki Rachmawanto. Baru sejak Maret 2023, digantikan M. Abduh. Makanya, dua anak buahnya menyerahkan uang kepada dua orang yang berbeda karena adanya peralihan danru. (Yud)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal