LampuHijau.co.id - Kiagus Emil Cornain merasa kasihan kepada para tahanan di rumah tahanan negara Komisi Pemberantasan Korupsi (Rutan KPK) yang tidak ikut iuran bulanan.
Bahkan terpidana kasus korupsi agen fiktif PT Jasindo ini menyebut, perlakuan para petugas rutan tidak manusiawi karena menempatkan 8 tahanan di satu ruangan.
Kiagus Emil mengutarakan pernyatannya dalam sidang kasus dugaan pungutan liar (pungli) di tiga Rutan Cabang KPK. Dirinya dihadirkan secara daring dari Lapas Sukamiskin, Bandung, sementara 15 terdakwa dan saksi lain di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin, 9 September 2024.
Dalam sidang, jaksa KPK menanyakan mengenai nasib para tahanan di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur yang tak ikut iuran bulanan. Terutama soal perlakuan dari petugas rutan.
Menurut Kiagus, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat nasib para tahanan yang tak ikut iuran bulanan. Ada sekitar 7 atau 8 orang tahanan kasus korupsi dari Muara Enim, Sumatera Selatan yang ditempatkan di ruang klinik rutan.
"Sadis ya?" jaksa merespons keterangan Kiagus.
"Nggak manusiawi sekali itu," timpal Kiagus dengan nada ketus.
Baca juga : Sidang Budi Said: Saksi Sebut Budi Said Bukan Reseller, Nggak Dapat Diskon
Kiagus bilang, perlakuan inilah yang membedakan dengan tahanan lain yang membayar iuran bulanan. Dan karena ditempatkan dalam satu ruangan, mereka juga harus berebutan untuk sekadar mandi atau ke toilet.
Kiagus mengaku tahu persis peristiwa yang terjadi di dalam rutan KPK Pomda Jaya Guntur tersebut.
"Minum pun kadang-kadang minta tolong saya, 'Pak tolong ambilin aquanya'," sambung Kaigus, menirukan permintaan tahanan dari Muara Enim waktu itu.
Kiagus sendiri mengakui bahwa dia tahanan yang ikut iuran. Itupun karena terpaksa.
Karena dirinya memiliki phobia ruangan sempit. Dia tak bisa tenang selalu berada di dalam ruangan.
Dia menceritakan, sejak menjadi tahanan di KPK pada Juni 2021, sempat diisolasi dahulu selama 14 hari di Rutan KPK Cabang C1. Setelahnya, ia dipindah ke Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur.
Baru tiba, Kiagus didatangi sesama tahanan lain yang menjadi korting alias koordinator tahanan untuk setoran bulanan. Pembicaraannya soal permintaan jatah bulanan buat para perutas rutan, yang disebut 'aturan main'.
Baca juga : Bank DKI Salurkan Bantuan Kebutuhan Warga Korban Kebakaran Manggarai
Setelahnya, Kiagus setuju untuk mentransfer uang setoran pertama pada 21 Juni 2021 lalu. Jumlahnya Rp 20 juta. Uang ditransfer lewat pengacaranya saat itu.
Selebihnya, besaran iuran bulanannya sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Berdasar berita acara pemeriksaan (BAP) Kiagus, total uang yang diberikan untuk iuran selama jadi tahanan sebesar Rl 135 juta.
Setiap bulan, keluarga Kaigus maupun pengacaranya mentransfer uang ke rekening yang telah ditentukan korting.
"Sebetulnya saya tidak mau membayar, saya tanya, 'kalau saya nggak bayar apa sanksinya?' Kemudian dijelaskan oleh korting, 'ya itu tetap nanti diisolasi lagi dan digembok diselot'," ungkap Kiagus.
Dia juga mengaku pernah diminta petugas rutan membayar Rp 500 ribu. Pasalnya, kabel USB untuk men-charge ponselnya ditahan ketika ada sidak.
"Ngapain saya bayar, belinya cuma Rp 35 ribu, masa harus bayar Rp 500 ribu," kesal Kiagus. Larangan lainnya, tidak boleh berolahraga, tidak boleh salat di masjid, dan makanan terlambat. Intinya, kata Kiagus, tidak diurus oleh petugas rutan.
Hal ini seperti yang dialami Husni Fahmi, tahanan kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP). Karena tak sanggup bayar iuran bulanan, dia mengaku disuruh membersihkan toilet umum di rutan dan mencuci piring setiap hari.
Baca juga : Jelang Nataru, Petugas Lapas dan Rutan Tidak Boleh Cuti
"Jadi, saya tiap subuh itu nyapu, ngepel, bersihin dapur, kamar mandi, buang sampah tiap hari," kata Husni, yang turut menjadi saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
Selain itu, ia harus mengangkut air dari masjid untuk mengisi bak kamar mandi umum. Husni mengangkut air memakai ember sehari tiga kali, yakni pagi, sore, dan malam.
Sedangkan yang membayar iuran bulanan, kamar mandinya berbeda. Karena hampir di setiap kamar mereka terdapat kamar mandi sendiri.
"Sebenarnya di kamar kami ada (kamar mandi), cuma airnya kecil," akunya. (Yud)