Penembakan Donald Trump Akibat Gaya Komunikasi Ekstrem, Bisa Terjadi di Indonesia?

Diskusi Gelora Talks, Rabu, 17 Juli 2024. (Foto: ist)
Kamis, 18 Juli 2024, 10:17 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Terkait peristiwa penembakan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kandidat calon presiden (capres) dari Partai Republik pada Sabtu (13/7/2024) lalu, pengamat geopolitik Tengku Zulkifli Usman mengingatkan, hal itu bisa saja terjadi di Indonesia.

Menurutnya, aksi itu terjadi akibat gaya komunikasi politik ekstrem yang dipertontonkan oleh Donald Trump dan Presiden AS Joe Biden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 sejak 2020 lalu, hingga menyebabkan terjadinya polarisasi di publik mereka.

"Kita mau mengingatkan, penembakan Trump ini akibat komunikasi ekstrem di depan publik, yang dipraktikkan Joe Biden dan Donald Trump. Ini juga bisa terjadi di Indonesia, jika yang kalah tidak terima dan yang menang arogan," tuturnya, dalam diskusi Gelora Talks 'Donald Trump Tertembak, Ada Apa Dibalik Pilpres Amerika?', Rabu (17/7/2024) sore.

Dikatakannya, jika elite politik Indonesia masih menggunakan politik identitas bisa menyebabkan terjadinya polarisasi di masyarakat.

Baca juga : Hati Hati, Penyakit Paru Bisa Menjadi Pandemi Ketiga di Indonesia

"Ada orang-orang yang sengaja memelihara permusuhan dan perselisihan seperti pada Pemilu 2014-2019 lalu, kadang pelakunya partai Islam. Kalau dia terdesak, teriak orang lain Firaun, dan kalau dia bagus dia bilang Musa. Mereka mengklaim Musa terus, yang lain dibilang Fir'aun terus. Padahal dalam Pilkada antara Fir'aun dan Musa berteman dan berkolaborasi," terangnya.

Untuk itu, gaya komunikasi politik ekstrem harus ditinggalkan karena tidak menguntungkan bagi Indonesia dan merugikan generasi selanjutnya yaitu Indonesia Emas 2045. Selain itu, masyarakat harus diberikan pencerahan dan pencerdasan dalam berpolitik.

"Cara berpikir seperti ini akan merusak kita, ketika Pemilu atau Pilpres bermusuhan, tapi ketika Pilkada berkolaborasi dan berteman, kan nggak konsisten. Jadi kelakukan-kelakuan munafik dan hiprokrit seperti ini harus dihilangkan dari Indonesia," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, pakar komunikasi dan hubungan internasional, Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA mengatakan, pemerintah Indonesia tidak perlu mendukung salah satu satu calon presiden AS, antara Joe Biden atau Trump.

Baca juga : Pemdes Ciasembaru Gandeng Partisipasi Bermakna Berantas Stunting di Indonesia

"Indonesia itu mirip gadis cantik, kita yang diperlukan. Mau siapa yang jadi presiden, baik Trump maupun Biden, sama saja. Kita juga tetap harus melakukan lobi-lobi kepada Amerika, bagaimana semua kepentingan nasional kita agar diutamakan," kata Bachtiar.

Ia menilai, dinamika politik di AS memang menarik untuk diperbicangkan. Karena terjadinya perubahan signifikan dalam revolusi mental di negara yang dianggap paling demokratis di dunia tersebut.

"Gara-gara pertarungan politik, memang nilai-nilai sopan santun sudah terkikis dan serangan-serangannya juga bersifat pribadi. Di Indonesia, gejala ini sudah ada sampai ada keinginan politik bumi hangus. Kita harus hormati, suka atau tidak suka siapa yang terpilih," tegasnya.

Sementara aktivis demokrasi di Amerika Serikat dan Anggota Dewan Kota 2002 & 2008, Chris Komari menegaskan, penembakan terhadap capres dari Partai Republik Donald Trump tidak ada konspirasi politik yang dilakukan oleh Presiden AS Joe Biden.

Baca juga : Pras: Memakmurkan Masjid Tugas Bersama, Terlebih di Bulan Ramadan

"Donald Trump itu, satu-satunya mantan Presiden Amerika yang tidak pernah menerima kekalahan. Memang banyak teori tentang kejadian ini, dan media berperan dalam membentuk opini publik mengenai Joe Biden," kata Chris.

Bahkan dirinya menilai, kejadian penembakan ini memang menguntungkan Trump secara politik maupun popularitasnya. "Bisa jadi Trump memenangi Pilpres AS pada November 2024 mendatang," pungkasnya. (Asp)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal