Pegawai Kementan Bayarkan Kredit Alphard, Anak SYL Sebutnya Sewa

Anak SYL, Kemal Redindo bersama pengacara di Gedung Merah Putih KPK usai pengembalian mobil. (Foto: Yud)
Sabtu, 8 Juni 2024, 07:10 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Anak mantan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL), Kemal Redindo Syahrul Putra berdalih, mobil yang dipakai keluarganya di Makassar, Sulawesi Selatan disewa bukan dikredit sebagaimana fakta persidangan. Dia juga menyebut, jenis mobil tersebut adalah Vellfire bukan Alphard.

Hal ini diungkapkan Redindo saat mengembalikan satu unit mobil Toyota Vellfire kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menyeret SYL. Mobil mewah berkelir putih dengan nomor polisi (nopol) B 1105 SQH itu dikembalikan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat, 7 Juni 2024 sekitar pukul 14.40 WIB.

Saat pengembalian, Redindo didampingi penasihat hukum ayahnya, Djamaluddin Koedoeboen. Redindo mengakui, kedatangannya untuk memberikan keterangan terkait pengembalian mobil tersebut.

"Sehingga hari ini kita menghadapi para penyidik ini, cukup singkat ya," tuturnya usai pemeriksaan dan pengembalian mobil, Jumat petang.

Menurutnya, kendaraan itulah sebagai keluarga yang disewa, bukan mobil yang dikredit untuk dimiliki SYL. Dia juga mengaku, tak pernah menggunakannya.

"Bukan mobil dinas, mobil keluarga yang disewa," tangkis dia.

Terkait pelat nomor B 1105 SQH yang ternyata untuk mobil Fortuner, dia juga mengaku tak tahu. Termasuk kepemilikannya.

"Iya, iya, nanti itu di penanggung jawab itu," kilahnya.

"Pelat nomornya itu kan berganti-ganti. Kalau Pak Syahrul itu dulu pakai RI 37 biasanya. Biasanya juga pakai 5 YL ketika tidak dalam dinas, seperti itu," bebernya.

Berita Terkait : Duit Hasil Malak Pejabat Kementan Banyak Penuhi Kebutuhan Mewah Anak SYL

Dikonfirmasi terkait fakta persidangan bahwa kendaraan itu pembayarannya memakai anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) dan jenisnua Alphard, ia mengaku bingung. Redindo menyebut, jenis mobil yang disewa adalah Vellfire.

"Nah, itu dia yang kita bingung kemarin (di persidangan). Karena disebutnya Alphard, kita nggak pernah sewa Alphard," tangkisnya.

Sebelumnya dalam persidangan, pegawai Kementan mengungkapkan, uang Kementan mengalir kepada Redindo sebagai pembayaran kredit mobil Alphard. Mobil itu biasa digunakan SYL ketika di Makassar. Besaran uang cicilan kredit sejumlah Rp 43 juta per bulannya selama 10 kali.

Hal ini diungkapkan staf Biro Umum dan Pengadaan Kementan, Gempur Aditya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin, 22 April 2024 lalu. Dia menjadi saksi dalam perkara dugaan pemerasan dan gratifikasi di Kementan.

Kasus rasuah ini menyeret SYL bersama dua anak buahnya di kementerian; yakni mantan Sekretaris Jenderal Kasdi Subagyono dan mantan Direktur Alat dan Mesin Pertanian Muhammad Hatta selaku terdakwanya.

Mulanya, ketua majelis hakim Rianto Adam Pontoh menanyakan aliran-aliran uang yang masuk ke rekening milik Karina, staf Biro Umum lainnya.

Rekening bank Karina dipakai untuk menampung pundi-pundi dari pinjaman beberapa pengusaha yang memiliki pekerjaan di Kementan. Perusahaan/vendor tersebut ditunjuk langsung karena nilai proyeknya kecil, di bawah Rp 200 juta.

"Uang dari Gempur dikasih ke Saudara?" tanya hakim Pontoh kepada Karina.

"Bukan Pak, kalau yang lewat rekening itu Pak Gempur selalu infokan, 'Bu nanti ada ada yang pinjaman dari uang Hendra Putra masuk ke rekening (milik Karina)'," jawab Karina menyebut salah satu pengusaha rekanan Kementan.

"Yang minta uang ke rekanan siapa, Saudara atau Gempur?" lanjut hakim.

"Pak Gempur," timpal Karina.

Berita Terkait : Staf Kementan Setor Uang Kreditan Alphard SYL Rp 430 Juta

"Oh Gempur. Jadi, disampaikan akan ada transfer ke rekening Saudara dari pihak ketiga tadi ya?" tanya hakim lagi.

"Iya," jawab Karina.

Hakim Pontoh lantas mengonfirmasi kepada Gempur, yang langsung dibenarkan. "Dalam (mata uang) rupiah ada pembayaran mobil Alphard. Itu pembayaran beli atau sewa? Permintaan dari?" tanya hakim.

"Saya kurang tahu, sepertinya beli, Pak. Permintaan dari Pak Karo (Ahmad Musyafak), ke Pak Hafid (Kabag), ke saya itu ada permintaan untuk pembayaran bulanan Alphard," jelas Gempur.

Hakim Pontoh lantas meminta penegasan, apakah pembayaran tersebut sebagai kredit atau sewa bulanan. Gempur menyebutnya kredit mobil karena dibayar per bulan.

"Bisa saja kan sewa per bulan," hakim Pontoh merespons jawaban Gempur.

"Tidak Pak. Tidak ada bukti sewanya Pak," jawab Gempur. Berapa kali Saudara keluarkan (uang) untuk itu, berapa kali?" cecar hakim.

"Dari Januari 2021 sampai dengan Desember (2021)," balas Gempur.

"Wah, satu tahun ya. Per bulannya berapa?" tanya hakim.

"Rp 43 juta," jawab Gempur.

Dia juga menjelaskan, mobil tersebut berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Karena uang itu kemudian ia serahkan pada Karina, lalu ditransfer ke rekening Aliandri selaku ajudan anak SYL, Kemal Redindo Syahrul Putra.

Berita Terkait : Tak Terima Keterangan Ajudan, SYL Singgung Pengadilan Allah

"Setiap bulan ya?" tanya hakim Pontoh.

"Tidak Pak. Karena memang ada beberapa (bulan) yang kita tidak bayarkan," kata Gempur.

"Akhir bulan Maret ya? Maret 2021 sampai Desember 2021?" hakim mengonfirmasi isi berita acara pemeriksaan Gempur.

"Iya, Pak," timpal Gempur.

Hakim kemudian menanyakan siapa yang meminta untuk pembayaran tersebut. Apakah SYL memintanya melalui ajudannya, Panji Hartanto; atau kepada dua bawahannya di Kementan yakni Kasdi dan Hatta.

"Ini kan ngirim ke Aliandri. Tahu nggak Saudara dari Karo menyampaikan bahwa ini permintaan siapa? Apakah Muhammad Hatta, Panji, atau Pak Kasdi?" tanya hakim lagi.

"Itu permintaan dari anak Pak Menteri Pak, Dindo (Redindo) Pak," jelas Gempur.

"Tahu dari mana Saudara bahwa Dindo yang minta?" ucap hakim penasaran.

"Karena Aliandri itu ajudannya Dindo Pak," ungkap Gempur, yang mengaku diinfokan lewat Kabiro sebelumnya, Maman Suherman. (Yud)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal