LampuHijau.co.id - Ahli geometrik jalan dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Imam Muthohar menyebut, kelandaian konstruksi jalan layang tol Jakarta-Cikampek II (Japek II) alias tol Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ) tidak lazim. Bahkan kondisi seperti ini tak pernah ia pelajari, baik di Indonesia maupun luar negeri.
Imam adalah saksi ahli yang dihadirkan jaksa Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam sidang perkara dugaan korupsi proyek pembangunan Jalan Layang Tol Japek II alias Tol MBZ. Dia bersama tim ahli dari Fakultas Teknik UGM, melakukan pencermatan dan survei di tol tersebut, saat diminta penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung, yang menangani perkara rasuah ini.

Baca juga : Polres Subang Tangkap Pengedar Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar di Kelurahan Soklat
Kasus ini menyeret empat terdakwa, yakni mantan Direktur Utama (Dirut) PT Jasamarga Jalan Layang Cikampek (JJC) Djoko Dwijono; Ketua Panitia Lelang JJC Yudhi Mahyudin; tenaga ahli jembatan PT LAPI Ganesatama Consulting, Toni Budianto Sihite; dan mantan Direktur Operasional II PT Bukaka Teknik Utama Sofiah Balfas.
Imam menyatakan, Tol MBZ telah cukup baik untuk sebuah desain jalan tol layang. Tapi banyaknya kelandaian di ruas jalan tol ini menjadi catatan tersendiri.
Timnya mencatat, mulai kilometer (Km) 9+500 sampai Km 28+500, yaitu sepanjang sekitar 17 kilometer, ada sekitar 53 kelandaian.
Baca juga : Dibongkar Tanpa Izin, Pilar Trotoar Anies di Cilandak Hilang
"Kelandaian itu bisa kelandaian cembung, bisa kelandaian cekung. Jadi, bisa tanjakan bisa turunan. Artinya kalau kita bagi 17 kilometer ini dibagi 53 kelandaian, (maka) setiap 300 meter itu ada kelandaian," paparnya dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa, 4 Juni 2024.
"Ini yang tidak lazim. Sepanjang yang saya pelajari dari S1 (Strata 1) sampai dengan S3 kami belajar di luar negeri, desain jalan tol itu apalagi kalau layang, seyogyanya adalah lurus dan datar. Itu adalah prinsip utama kalau kita ingin mendesain jalan tol layang. Kalau toh itu perlu ada kelandaian, itu adalah kelandaian yang terkontrol," papar Imam lagi.
Dia mencontohkan jalan layang yang benar berdasarkan keilmuannya. Salah satunya jalan tol akses Tanjung Priok. Yang mana di sebelahnya terdapat jalan Kereta Cepat Indonesia-China yang tampak lurus.
Baca juga : Tondi Hasibuan Gelar Pameran Tunggal di Roma Dengan Tema Sogno Notturno
Dia menambahkan, contoh jalan layang yang benar itu seharusnya dapat menjadi acuan. Agar kemudian, dapat mengurangi hentakan, ayunan, dan lainnya yang bisa mengurangi kenyamanan penggunanya.
Pasalnya, setiap sambungan jembatan atau expansion joint adalah titik terlemah di Tol MBZ. Bahkan ia mengaku merasakan expansion joint saat melintasi, meskipun dalam posisi datar.
"Kalau kita lewat jalan tol lewat expansion joint ada jedug-jedug, itu berarti kurang bagus jalannya. Apalagi kalau ini ada kelandaian, itu akan memberikan daya tambahan, sehingga membuat potensi expansion-nya mungkin perlu perawatan lebih tinggi, lebih cepat rusak, dan sebagainya," papar Imam. (Yud)