LampuHijau.co.id - Sapi kurban di Musala Al Mustaqim, Jalan Utama III, Cengkareng, Jakarta Barat, berontak saat hendak disembelih. Sapi menendang mulut tukang jagal bernama Abdul Rahim hingga giginya copot lima.
Hal itu beredar luas melalui video di media sosial. Video Abdul Rahim seketika viral. Penjagal itu disepak oleh sapi kurban yang hendak dieksekusi usai salat Id. Tugiono, teman korban, yang berada di lokasi kejadian menuturkan, saat itu Rahim ingin mengikat kaki sapi kurban agar jatuh ke tanah lalu disembelih. "Kami kan panitia kurban. Sudah biasa kalau habis salat Id kita siap-siap untuk sembelih kurban. Nah Pak Rohim teman saya, dia mau ambil kaki sapi pakai tali supaya bisa roboh. Tapi tiba-tiba sapinya marah," cerita Tugiono saat kejadian, Minggu (11/8/2019).
Menurut Tugiono, usai kejadian tersebut Rahim sempat tak sadarkan diri. Sepakan sapi kurban tersebut juga membuat dua gigi Rahim tanggal dan bibirnya pun luka memar. "Dia pingsan, luka bibirnya pecah, giginya lepas. Sekitar dua giginya copot, pokoknya gigi, tapi enggak tahu bagian pastinya yang mana. Abis (kejadian) itu, nggak lama (korban) sadar," ungkapnya.
Baca juga : Tanpa Sebab dan Alasan, Tukang Sayur Ditusuk Tetangga Ampe Tewas
Rohim sempat dibawa ke puskesmas terdekat. Namun, Tugiono belum sempat menjenguknya. "Saya belum lihat lagi, belum tengok dia lagi. (Sebelumnya) dia (dibawa) ke rumah sakit mana saya nggak tahu. Kalau nggak salah ke puskesmas," tutup Tugiono.
Seperti video yang beredar, Rahim sedang berusaha untuk mengikat sapi bersama satu kawannya. Sapi terlihat beberapa kali menggerakkan badannya. Saat korban dalam posisi agak menunduk, kaki sapi bergerak menendang dan mengenai mulut korban. Korban pun dibawa ke RSUD Cengkareng. "Mengalami luka di mulut. Di RS sudah diperbolehkan pulang. Sekarang dalam perawatan di rumah. Sementara sapi tetap disembelih," ucap Khoiri.
Sementara, di Depok seorang bule asal Kanada bernama Martin Pistagnesi (49) ikut melakukan pemotongan daging kurban yang akan dibagikan kepada warga di Griya Lembah Depok, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Martin adalah seorang mualaf yang baru menjalaninya selama 2 tahun. Dia tinggal di RT 01/RW 24 Griya Lembah Depok.
Baca juga : Mantan Kapolda Metro Jaya Jadi Tersangka Dugaan Makar
Pagi ini pun, Martin telah menunaikan Salat Id di sana. Setelah beberapa hewan kurban disembelih, ia membaur dengan warga lainnya untuk ikut memotong-motong daging kurban untuk ditimbang. Sambil duduk di kursi jongkok kayu dengan menggunakan kaos abu-abu dan celana pendek, ia nampak lihai menyayat dan memotong-motong daging dengan ukuran sedang. Sesekali, ia bekerja sambil bersenda gurau, sehingga nampak akrab dengan warga.
Padahal, ia sendiri baru tinggal di sana selama 6 bulan setelah 4 tahun tinggal di Indonesia. Namun keakraban tampak terlihat nyata saat dirinya membaurkan diri dalam kegiatan tersebut. Anak-anak dan beberapa ibu-ibu yang datang pun nampak antusias dengan keberadaan bule di tengah-tengah masyarakat pribumi.
Martin mengaku senang ikut berbaur dengan warga mengikuti kegiatan tradisi yang dilakukan umat Muslim Indonesia. Sebab, menurutnya, dengan adanya tradisi ini, bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. "It's gonna be helping the people in the cluster here. So I feel good. I think it's a good thing (Ini akan membantu orang-orang di sekitar sini, jadi aku rasa ini baik, saya pikir itu hal yang baik)," tuturnya, Minggu (11/8).
Baca juga : Idul Adha 1440 H, Pemprov DKI Bagikan 1,2 Ton Sapi Limosin Kepada Warga
Martin tinggal bersama istri dan empat orang anaknya. Ia mengaku setiap tahun selalu mengikuti tradisi Idul Adha di daerah dimana ia tinggal. Namun baru kali ini Martin melakukannya di Depok, mulai dari salat Id, hingga ikut memotong daging kurban. "Indonesian people are good. That's what attract me. The people don't judge, but accept other. They're ready to make friend, ready to be my friend. I really very wellcome (Orang Indonesia baik-baik. Itu yang membuatku tartarik. Orang-orangnya enggak mudah menghakimi, bisa menerima yang lain. Mereka siap berteman, mau berteman sama saya. Aku benar-benar merasa disambut)," cerita Martin. (LHTJ)