Sektor Padat Karya Kunci Atasi Pengangguran

Jumat, 2 Agustus 2019, 11:21 WIB
Jakarta City

LampuHijau.co.id - Pengembangan industri SKT dan sektor padat karya lain menjadi salah satu kunci mengatasi pengangguran di Indonesia. Sebab, segmen ini paling banyak menyerap tenaga kerja.

Penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar amat penting karena mengatasi pengangguran. Hal ini juga menjadi salah satu perhatian Jokowi yang disampaikan pada masa kampanye lalu.

Direktur Persyaratan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan Siti Jubaedah mengatakan, angkatan kerja di Indonesia sebanyak 136,18 juta jiwa. “Angkatan kerja tersebut di dominasi oleh pendidikan SMP,” ujarnya dalam acara diskusi yang diselengarakan Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) di kawasan Menteng, Jumat (2/8/2019).

Dengan profil angkatan kerja seperti itu, dibutuhkan industri berdaya serap tinggi sekaligus tidak menuntut persyaratan keterampilan kompleks. Tidak banyak industri bisa memenuhi kebutuhan seperti itu. Industri padat karya seperti SKT menjadi salah satunya. Karena itu, penting menjaga iklim usaha di sektor industri padat karya agar tetap sehat dan bertumbuh. Gangguan pada sektor ini akan mengurangi kemampuan penyerapan tenaga kerja.

Baca juga : Raih Predikat WTP, Kemenkop dan UKM Janji Tingkatkan Kualitas Pengelolaan Anggaran

"Jika Iklim investasi ditingkatkan akan meningkatkan hubungan negara dan industri semakin baik, sehingga pada akhirnya membuka lapangan pekerjaan. Jangan sampai terdapat pengangguran yang bisa mengoyang (kestabilan) masyarakat," katanya.

Sementara, Anggota DPR RI Fraksi PKB, Faisol Reza, menekankan perlunya insentif untuk industri padat karya untuk dapat berkembang. Insentif diperlukan padat karya untuk melindungi ketenagakerjaan.

"Padat karya secara filosofis merupakan jaminan sosial di masyarakat,” kata Faisol Riza pada kesempatan yang sama.

Kepala Subdirektorat Program Pengembangan Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Mogadishu Djati Ertanto mengatakan, Sigaret Kretek Tangan (SKT) merupakan industri pengolahan hasil tembakau yang mampu menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang sangat besar. Kondisi ini mengalami tren penurunan produksi, tercatat pada tahun 2011 produksi SKT mencapai 96,53 milyar batang, dan sedangkan produksi tahun 2018 mencapai 65,81 milyar batang. Dalam periode 2013 hingga 2018, 32.000 orang pekerja di sektor itu terpaksa kehilangan pekerjaan. Sebab, pabrik-pabrik tempat mereka bekerja tutup.

Baca juga : Gratis Bakso Bagi Penghafal Al Quran

"Tren penurunan ini berimbas bukan hanya tenaga kerja di industri namun juga pada petani cengkeh,” katanya di Menteng Jakarta.

Menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara itu, 1,7 juta pekerja berada di sektor perkebunan. Selain dari aspek tenaga kerja, industri rokok telah meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal dari hasil perkebunan seperti tembakau dan cengkeh.

Terkait hal ini, pada tahun 2011 Kementerian Perindustrian juga mencatat ada 2.540 pelaku industri yang memesan cukai produk tembakau. Pada 2017, pemesannya tersisa 487 saja alias berkurang lebih dari 2.000 pelaku industri. Hal tersebut, berimbas luas bagi para pekerja sektor IHT yang lantas kehilangan pekerjaan.

Penulis buku Gadis Kretek, Novelis Ratih Kumala, mengatakan bahwa pekerja SKT pada umumnya adalah perempuan. Pekerja perempuan di SKT bekerja sebagai pelinting dan tukang batil. Para pelinting membawa keponakannya untuk bekerja sebagai tukang batil yang merapihkan lintingan SKT setelah dilinting oleh pelinting.

Baca juga : BPK Duga Ada Konspirasi dari Pengangkatan 21 Penyidik KPK

"Para pelinting dalam satu tim dapat menghasilkan 1000 batang SKT dalam 1 jam," katanya. Dia menjelaskan pendapatan para pelinting dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena jumlah produksi SKT terus menurun. Demkkin juga dengan pendapatan mereka yang kian menurun hingha 1,2 persen dari tahun ke tahun," tukas Ratih.

Di banyak tempat, pekerja IHT SKT adalah perempuan yang sekaligus menjadi sumber utama penghasilan keluarga. Jika mereka tidak bekerja, maka keluarga tidak punya penghasilan. Pendidikan yang relatif rendah serta keterbatasan keterampilan menjadi faktor yang menyebabkan sulitnya mereka terserap sebagai tenaga kerja di sektor lain. (drs)

Index Berita
Tgl :
Silahkan pilih tanggal untuk melihat daftar berita per-tanggal