LampuHijau.co.id - Akun Ali Arief di Facebook mengunggah status dengan narasi “import kita sampai ke kondom bekas” dilengkapi dengan dua foto tumpukan sampah. Ia mengklaim bahwa dua foto itu sebagai limbah sampah plastik yang diimpor oleh Indonesia, dan akan dipakai sebagai bahan bakar pengganti kayu.
“Artinya membeli racun yg murah, untuk mencemari udara bersih yg kita perlukan,” tulisnya pada 26 Juni 2019.
Foto pertama memperlihatkan tangkapan gambar sampah plastik dalam kontainer yang diambil dari berita liputan6.com. Ali Arief mengklaim bahwa itu adalah foto kondom bekas yang diimpor Indonesia. “Sedungu dungunya suatu bangsa mengimport kondom bekas, entah untuk apa,” tulisnya lagi.
Baca juga : Penampakan Jin Mata Sipit di Belakang Hakim MK
Hingga 28 Juni 2019, unggahan itu telah dibagikan 9,6 ribu kali. Artikel ini akan memeriksa benarkah foto pertama adalah foto kondom bekas? Dan, benarkah foto kedua adalah limbah sampah plastik yang diimpor Indonesia?
Faktanya setelah ditelusuri, yang dilansir oleh tempo.co bahwa foto tersebut pernah dipublikasikan liputan6 yang berjudul "Kondom Bekas Asal Jerman diteliti KLH". Foto impor kondom bekas tersebut terjadi pada 2007, dan tidak relevan dikaitkan dengan foto sampah kertas impor di Mojokerto.
Berita itu adalah peristiwa pada 2007. Foto itu memuat satu kontainer kondom yang disita Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Itu adalah kondom kadaluarsa yang diimpor oleh PT RRT di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Baca juga : Indonesia Paling Banyak Ngimpor Daging Beku
Pihak Bea dan Cukai menduga kondom yang didatangkan dari Jerman ini akan didaur ulang untuk dibuat berbagai barang berbahan dasar lateks. Daur ulang kondom bekas bukan barang baru bagi pengusaha di Cina. Di negeri yang dikenal dengan produknya yang serba murah itu, kondom bekas dijadikan berbagai bentuk aksesoris. Misalnya ikat rambut, yang dijual dengan harga cukup murah sekitar Rp 40 untuk 10 buah.
Tempo juga pernah menulis bahwa dalam manifes impor, tercatat klasifikasi barang berupa new process scrap & wastes of natural latex condoms yang diimpor PT RRT (Rubber & Rubber Tech). Barang tersebut diangkut kapal Ever Apex dari pelabuhan Deham, Hamburg, Jerman dan tiba di Tanjung Priok tanggal 11 November 2007.
Terkait foto kedua, hasil temuan Tempo menemukan bahwa foto tersebut bersumber dari kantor berita Antara yang dipublikasikan pada 19 Juni 2019. Akan tetapi, berbeda dengan narasi yang dibangun oleh akun Ali Syarief, foto itu bukan limbah sampah plastik.
Baca juga : Gerindra Klaim Unggul di Bekasi
Dalam keterangan foto, Antara menulis, itu adalah tumpukan sampah kertas yang diimpor oleh sebuah perusahaan pabrik kertas sebagai bahan baku kertas di Mojokerto, Jawa Timur. Mayoritas pabrik kertas di Jatim masih menggunakan bahan baku kertas bekas dari luar negeri.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penggunaan kertas bekas impor untuk bahan baku produksi kertas sejatinya legal sepanjang sesuai regulasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 tahun 2016 maupun Konvensi Basel. Namun yang menjadi masalah adalah ribuan ton kertas bekas yang diimpor perusahaan-perusahaan itu selalu tercampur dengan plastik.
Kesimpulannya, dua foto tentang impor sampah plastik dan kondom yang diunggah Ali Arief memang benar terjadi di Indonesia. Akan tetapi foto impor kondom bekas tersebut terjadi pada 2007, dan tidak relevan dikaitkan dengan foto sampah kertas impor di Mojokerto. Kami menyimpulkan narasi yang diunggah akun Ali Arief sesat. (LHTJ)