LampuHijau.co.id - Pada masa libur sekolah, banyak orang tua yang ingin mengajak buah hatinya pergi sunat. Tapi sejak beberapa waktu lalu, ada yang bikin alis terangkat karena aneh atau bingung terkait layanan di sebuah klinik sunat.
Dalam spanduknya yang viral, klinik tersebut menawarkan berabagai model sunat, mulai dari model jengger ayam, bunga mawar, kuncir kuda, hingga shock breaker! Hah, memangnya ada berapa model potongan sunat?
Baca juga : Wali Kota Jakpus Kukuhkan dan Lepas 653 Atlet Muda Menuju POPPROV 2019
Keterkejutan sekaligus keingintahuan tentang berbagai model potongan sunat juga muncul dalam polling yang dibuka di Twitter @detikHealth. Banyak yang penasaran apakah model-model seperti itu benar-benar ada.
"Sejak kapan sunat ada model potongannya?!" tulis salah satu netizen. "Model potongan? Dikira potong rambut kali yaa," sahut yang lain.
Baca juga : Mahasiswa Binus Anggrek Bunuh Diri di Kampusnya
Menanggapi hal ini, dokter urologi dr. JC Prihadi, SpU dari RS St Carolus Salemba, Jakarta Pusat mengatakan, berbagai variasi model sunat itu terbentuk dari bekas luka sunat. Normalnya, bentuk luka jahitan adalah melingkar. Namun dengan teknik yang sengaja dibuat 'tidak rapi', bekas luka akan membentuk model atau pola tertentu sesuai keinginan.
"Untuk bunga mawar, jahitan bisa dibuat dengan pola lebih kuat di titik tertentu dan longgar di lokasi lain. Sementara untuk jengger ayam, jahitan dibuat normal melingkar namun lebih tebal di ujung bawah sehingga seperti ada yang menonjol," katanya.
Baca juga : Padapotan Sinaga: Belum Ada Terobosan Signifikan Anies Atasi Macet di DKI
Walau sepertinya tampak unik dan menarik, ternyata berbagai variasi pada bekas luka tersebut tidak dianjurkan. Menurut dr. Prihadi, bentuk luka yang normal dan sesuai prosedur akan lebih cepat sembuh dan bila ada masalah akan lebih mudah dideteksi.
"Yang lebih penting, bentuk tersebut tidak memperbaiki kesehatan atau punya efek positif lainnya. Dengan ini akan lebih baik menggunakan prosedur jahit dan bekas luka yang sudah menjadi standar," tegas dr. Prihadi. (LHTJ)